[Faedah
Menurut para arif, menyibukkan diri dengan penyaksian ruhani sampai meninggalkan kebajikan di tengah perjalanan rohani berarti berhenti; sebab pada saat penyaksian itu, apabila ia tetap menambah amal lahir maupun batin, atau menambah ilmu terperinci dan iman, hal itu lebih utama baginya. Jiwa halus manusia akan dibangkitkan sesuai rupa amal, pengetahuan, cita-cita, dan kehendaknya, sedangkan jasad akan dibangkitkan sesuai rupa amalnya, baik maupun buruk. Ketika ia berpindah dari dunia ini, ia akan menyaksikan hakikat tersebut.
Sejauh mana hatimu dekat kepada Allah, sejauh itu pula engkau akan menjauh dari rasa akrab dan kebersamaan dengan manusia. Sejauh mana engkau menjaga rahasia serta kehendakmu, sejauh itu pula keduanya terpelihara. Pokok dari semuanya ialah lurusnya tauhid, kemudian benarnya pengetahuan tentang jalan, lalu benarnya kehendak, kemudian benarnya amal.
Berhati-hatilah—sungguh-sungguh berhati-hati—terhadap maksud manusia kepadamu, sambutan mereka, dan kemungkinan mereka menyingkap tujuanmu; itulah penyakit terbesar.
Pasal
Setiap orang berakal mengetahui bahwa setan tidak mempunyai jalan kepadanya kecuali dari tiga sisi:
Pertama: menambah-nambah dan berlebihan; ia menambah melebihi kebutuhan hingga menjadi kelebihan, dan itulah bagian setan sekaligus pintu masuknya ke hati. Cara berjaga-jaga darinya ialah tidak memberikan kepada diri sepenuhnya apa yang diingininya berupa makan, tidur, kenikmatan, atau rehat. Bila engkau menutup pintu ini, engkau aman dari masuknya musuh itu.
Kedua: kelalaian; orang yang berzikir berada dalam benteng zikir. Ketika ia lalai, ia membuka pintu benteng, musuh pun masuk sehingga sulit—bahkan sangat sulit—untuk mengusirnya.
Ketiga: memaksakan diri dengan segala sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.]