Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.”(1)

Maka seorang penuntut yang tulus, setiap kali ada bagian dari dirinya yang rusak, ia menjadikannya bangunan bagi hati dan ruhnya; setiap kali sesuatu dari dunianya berkurang, ia mengalihkannya menjadi tambahan bagi akhiratnya; setiap kali ia terhalang dari suatu kenikmatan duniawi, ia menjadikannya penambah kenikmatan akhirat; setiap kali ia dilanda kegelisahan, kesedihan, atau kegalauan, ia menjadikannya bahan kegembiraan di akhirat. Berkurangnya fisik, dunia, kenikmatan, kehormatan, dan kedudukannya—apabila kekurangan itu justru menambah perolehan dan penyimpanan (pahala) baginya di tempat kembalinya kelak—adalah rahmat dan kebaikan baginya; jika tidak, maka itu merupakan penolakan dan hukuman atas dosa-dosa lahir atau batin, atau karena meninggalkan kewajiban lahir atau batin; sebab terhalangnya kebaikan dunia dan akhirat bertumpu pada empat hal tersebut. Dan hanya dengan pertolongan Allah segala urusan terselesaikan.

Faedah
Sejak diciptakan, manusia senantiasa berada dalam perjalanan, dan mereka tidak akan menurunkan barang-barang mereka kecuali di surga atau di neraka. Orang yang berakal mengetahui bahwa perjalanan dibangun di atas kesusahan dan keberanian menempuh bahaya; mustahil dalam perjalanan mencari kenikmatan, kesenangan, dan kenyamanan—semuanya baru didapati setelah perjalanan usai. Jelas pula bahwa setiap pijakan kaki atau setiap detik di dalam perjalanan tidak pernah berhenti, dan orang yang dibebani syariat pun tidak berhenti; ia sungguh seorang musafir yang harus berada dalam keadaan sebagaimana layaknya musafir: menyiapkan bekal yang mengantarkannya. Ketika ia singgah, tidur, atau beristirahat sekalipun, ia tetap berada di atas kesiapsiagaan untuk melanjutkan perjalanan.

(1) Diriwayatkan oleh Ahmad (5/40, 43) dan at-Tirmidzi (2330) dari Abu Bakrah. At-Tirmidzi berkata: Hadis hasan sahih.
وشركم من طال عمرُه وقبُحَ عملُه" (١). فالطالب الصادق في طلبه كلما خَرِبَ شيءٌ من ذاته، جعله عمارةً لقلبه وروحه، وكلما نقص شيءٌ من دنياهُ جعله زيادةً في آخرته، وكلما مُنِعَ شيئًا من لذات دنياه جعله زيادة في لذات آخرته، وكلما ناله همٌّ أو حزن أو غم جعله في أفراح آخرته؛ فنقصان بدنه ودنياه ولذته وجاهه ورئاسته: إن زاد في حصول ذلك وتوفيره عليه في معاده كان رحمةً به وخيرًا له، وإلَّا كان حرمانًا وعقوبة على ذنوب ظاهرةٍ أو باطنةٍ أو ترك واجب ظاهرٍ أو باطن؛ فإن حرمانَ خيرِ الدنيا والآخرة مرتَّبٌ على هذه الأربعة. وبالله التوفيق. فائدة الناس منذ خُلِقوا لم يزالوا مسافرين، وليس لهم حطٌّ عن رحالهم إلا في الجنة أو النار. والعاقل يعلم أن السفر مبنيٌّ على المشقة وركوب الأخطار، ومن المحال عادةً أن يُطلَب فيه نعيمٌ ولذَّةٌ وراحةٌ، إنما ذاك بعد انتهاء السفر، ومن المعلوم أن كل وطأةِ قَدَمٍ أو كل آنٍ من آناتِ السفر غير واقفةٍ، ولا المكلف واقفٌ، وقد ثبت أنه مسافرٌ على الحال التي يجب أن يكون المسافر عليها من تهيئة الزاد الموصل، وإذا نزل أو نام أو استراح فعلى قدمِ الاستعداد للسير.
(١) أخرجه أحمد (٥/ ٤٠، ٤٣) والترمذي (٢٣٣٠) عن أبي بكرة. قال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie