dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.”(1)
Maka seorang penuntut yang tulus, setiap kali ada bagian dari dirinya yang rusak, ia menjadikannya bangunan bagi hati dan ruhnya; setiap kali sesuatu dari dunianya berkurang, ia mengalihkannya menjadi tambahan bagi akhiratnya; setiap kali ia terhalang dari suatu kenikmatan duniawi, ia menjadikannya penambah kenikmatan akhirat; setiap kali ia dilanda kegelisahan, kesedihan, atau kegalauan, ia menjadikannya bahan kegembiraan di akhirat. Berkurangnya fisik, dunia, kenikmatan, kehormatan, dan kedudukannya—apabila kekurangan itu justru menambah perolehan dan penyimpanan (pahala) baginya di tempat kembalinya kelak—adalah rahmat dan kebaikan baginya; jika tidak, maka itu merupakan penolakan dan hukuman atas dosa-dosa lahir atau batin, atau karena meninggalkan kewajiban lahir atau batin; sebab terhalangnya kebaikan dunia dan akhirat bertumpu pada empat hal tersebut. Dan hanya dengan pertolongan Allah segala urusan terselesaikan.
Faedah
Sejak diciptakan, manusia senantiasa berada dalam perjalanan, dan mereka tidak akan menurunkan barang-barang mereka kecuali di surga atau di neraka. Orang yang berakal mengetahui bahwa perjalanan dibangun di atas kesusahan dan keberanian menempuh bahaya; mustahil dalam perjalanan mencari kenikmatan, kesenangan, dan kenyamanan—semuanya baru didapati setelah perjalanan usai. Jelas pula bahwa setiap pijakan kaki atau setiap detik di dalam perjalanan tidak pernah berhenti, dan orang yang dibebani syariat pun tidak berhenti; ia sungguh seorang musafir yang harus berada dalam keadaan sebagaimana layaknya musafir: menyiapkan bekal yang mengantarkannya. Ketika ia singgah, tidur, atau beristirahat sekalipun, ia tetap berada di atas kesiapsiagaan untuk melanjutkan perjalanan.