sedangkan musuhnya melemparkan bara ke dalam nikmat-nikmatnya dan ia sendiri meniupnya; dialah yang telah memberi kesempatan musuh itu melemparkan api lalu menolongnya dengan tiupan. Ketika kobarannya semakin dahsyat, ia pun berteriak minta tolong dari jilatan api, dan puncak yang dapat ia lakukan hanyalah menyesali takdir:
“Orang yang lemah pikiran menyia-nyiakan kesempatannya,
hingga ketika urusan telah luput ia pun menyalahkan takdir.”(1)
Bagian
Salah satu bentuk ma‘rifat paling mulia adalah mengenal Rabb Yang Mahasuci melalui keindahan-Nya; ia merupakan pengetahuan kalangan terpilih di antara makhluk. Setiap makhluk mengenal-Nya lewat salah satu sifat-Nya, dan yang paling sempurna pengenalannya ialah orang yang mengenal-Nya melalui kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya, dan keindahan-Nya. Mahasuci Dia; tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam seluruh sifat-Nya.
Seandainya semua makhluk dibayangkan berada pada rupa yang paling indah—dan semuanya berada pada rupa itu—lalu keindahan lahir dan batin mereka dibandingkan dengan keindahan Rabb Yang Mahasuci, maka perbandingan itu masih lebih kecil daripada perbandingan sebuah pelita redup dengan cakram matahari.
Cukuplah sebagai bukti keindahan-Nya bahwa, seandainya Dia menyingkap tabir dari Wajah-Nya, kilauan keagungan-Nya pasti akan membakar apa saja yang dicapai pandangan-Nya dari makhluk-Nya.(2)
Cukuplah pula sebagai bukti keindahan-Nya bahwa setiap keindahan, lahir maupun batin, di dunia maupun di akhirat, hanyalah jejak dari ciptaan-Nya; maka bagaimana sangkaan kita terhadap Dia—sumber dari seluruh keindahan itu?!
Dan cukuplah sebagai bukti keindahan-Nya bahwa seluruh kemuliaan adalah milik-Nya, seluruh kekuatan milik-Nya, seluruh kemurahan, kebaikan, ilmu, dan keutamaan adalah milik-Nya, dan karena cahaya Wajah-Nya bersinarlah