[dan syair-syair asmara serta khamriyyah yang membangkitkan dorongan untuk menunaikan perkara-perkara terlarang dan membuat hati enggan menjalankan ketaatan; di tengah ladang itu ditegakkan pula pohon ketidaktahuan terhadap-Nya dan berpaling dari-Nya. Pohon itu senantiasa berbuah kefasikan, kemaksiatan, kelalaian, permainan, kebejatan, terombang-ambing oleh setiap hembusan angin, dan mengikuti setiap syahwat; di antara buahnya ada kegelisahan, kesedihan, duka, dan penderitaan. Semuanya tersembunyi selama jiwa masih tenggelam dalam hiburan dan permainannya; tetapi ketika ia sadar dari mabuknya, dihadapkanlah kepadanya seluruh kegundahan, keresahan, duka, kecemasan, dan hidup yang sempit. Ke pohon itu pun dialirkan siraman yang menyuburkannya: mengikuti hawa nafsu, panjang angan-angan, dan tipuan diri. Lalu rumah itu ditinggalkan bersama kegelapannya dan dinding-dindingnya yang runtuh, sehingga tak ada perusak, binatang, makhluk pengganggu, ataupun kotoran yang dicegah memasuki dan menempatinya.
Mahasuci Sang Pencipta rumah yang ini dan rumah yang itu!
Siapa memahami nilai rumahnya, nilai Penghuni di dalamnya, serta nilai segala harta terpendam dan peralatannya, akan memetik manfaat dari hidup dan jiwanya; sedangkan siapa yang tidak mengetahuinya, ia tak mengenal dirinya sendiri dan menyia-nyiakan kebahagiaannya.
Dan hanya dengan pertolongan Allah lah keberhasilan.
Pasal
• Ada yang bertanya kepada Sahl at-Tustarî, “Bagaimana jika seseorang makan sekali dalam sehari?” Ia menjawab, “Itulah makanannya orang-orang yang sungguh-sungguh tulus.” Ditanya lagi, “Bagaimana kalau dua kali?” Ia menjawab, “Itulah makanan orang-orang beriman.” Mereka bertanya, “Bagaimana kalau tiga kali?” Ia berkata, “Katakan kepada keluarganya agar membangunkan palungan untuknya.”
• Al-Aswad bin Sâlim berkata, “Dua rakaat yang aku kerjakan untuk Allah lebih aku cintai daripada surga beserta seluruh isinya.” Ada yang menegurnya, “Itu keliru.” Ia pun menjawab, “Biarkanlah perkataan kalian; surga adalah keridaan…]