setiap waktu dengan izin Tuhannya, berupa cinta, kembali taat, takut, kegembiraan karena-Nya, dan kesenangan akan dekat dengan-Nya. Kemudian Dia mengalirkan ke pohon itu siraman yang menyuburkannya, yakni dengan mentadabburi firman-Nya, memahaminya, dan mengamalkan wasiat-wasiat-Nya. Di dalam rumah itu Dia menggantungkan sebuah pelita yang disulut dengan cahaya ma‘rifat, iman, dan peneguhan tauhid kepada-Nya; pelita itu mengambil minyaknya dari “sebuah pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya hampir-hampir menyala meski api tidak menyentuhnya” (an-Nûr: 35). Setelah itu Dia mendirikan di sekelilingnya tembok penahan yang mencegah hama, para perusak, dan siapa pun yang dapat merusak taman, sehingga gangguan mereka tidak mengenainya. Dia menempatkan pula para penjaga dari malaikat yang menjaganya ketika terjaga maupun tertidur. Lalu Dia memberitahu pemilik rumah dan kebun itu tentang Sang Penghuni; maka seluruh perhatiannya senantiasa tertuju pada memperbaiki hunian itu dan merapikan segala kekurangannya agar Sang Penghuni meridhainya sebagai tempat tinggal. Bila ia merasakan sedikit saja cacat pada hunian itu, ia segera bergegas memperbaiki dan merapikannya karena khawatir Sang Penghuni berpindah darinya; sungguh, sebaik-baik penghuni dan tempat tinggal!
Mahasuci Allah, Rabb semesta alam! Betapa jauhnya perbedaan antara rumah ini dan sebuah rumah lain yang telah dikuasai keruntuhan, menjadi sarang serangga dan binatang melata, serta tempat pembuangan kotoran dan najis. Barang siapa hendak buang hajat akan mendapati reruntuhan tak berpenghuni dan tak ada penjaganya; ia memang disiapkan untuk buang hajat, gelap di setiap sudut, berbau busuk, kerusakan merata, dan kotoran memenuhi seluruh bagian. Tak seorang pun merasa tenteram atau mau singgah di sana kecuali makhluk-makhluk yang cocok tinggal di dalamnya seperti serangga, cacing, dan binatang melata. Setan duduk di atas ranjangnya, di atas ranjang itu terbentang permadani kebodohan, hawa nafsu berkibaran di sana, sementara di kanan kirinya sandaran syahwat dan mengikuti keinginan. Ke arahnya dibukakan pintu dari ladang kehinaan, kesepian, ketergantungan pada dunia serta ketenteraman dengannya, dan sikap acuh terhadap akhirat. Dihuyani oleh derasnya kebodohan, hawa nafsu, kemusyrikan, dan bidah sehingga tumbuh di dalamnya aneka duri, hanzhal yang pahit, serta pepohonan yang berbuah segala macam maksiat dan pelanggaran—berupa tambahan-tambahan sia-sia, ratapan-ratapan, anekdot, guyonan, dan hal-hal yang mengundang gelak tawa.