[Dan waspadalah, jangan sekali-kali engkau memberikan kesempatan kepada setan untuk menempati rumah pikiran dan kehendakmu; sebab ia akan merusaknya dengan kerusakan yang sukar diperbaiki, menebarkan kepadamu berbagai bisikan serta gagasan yang membahayakan, dan menghalangimu dari memikirkan apa yang bermanfaat bagimu. Engkaulah yang menolongnya melawan dirimu sendiri dengan membiarkannya memasuki hatimu dan lintasan-lintasanmu, sehingga ia pun menguasai keduanya. Perumpamaanmu dengannya seperti seorang pemilik penggiling yang sedang menggiling gandum berkualitas; tiba-tiba datang seseorang membawa muatan debu, kotoran binatang, arang, dan sampah untuk digiling di alat itu. Jika sang pemilik mengusirnya dan tidak mengizinkannya menumpahkan muatan itu, ia akan terus menggiling sesuatu yang berguna bagi dirinya; tetapi bila ia membiarkannya, rusaklah gandum yang ada di dalamnya dan seluruh tepung yang keluar menjadi tercemar.
Apa yang ditebarkan setan ke dalam jiwa tidak lepas dari: (1) memutar-balik pikiran tentang sesuatu yang telah terjadi—seandainya ia berlangsung dengan cara berbeda; (2) memikirkan sesuatu yang belum terjadi—bagaimana jadinya kalau ia terjadi; (3) menekuni berbagai kekejian dan keharaman yang tak selayaknya dipikirkan; atau (4) terjerumus ke dalam bayangan-bayangan semu yang sama sekali tak memiliki realitas, baik kebatilan murni maupun perkara gaib yang memang tertutup jalannya untuk diketahui. Ia menenggelamkan jiwa dalam lintasan-lintasan yang tak berujung dan tak berpangkal, menjadikannya ladang perenungan sekaligus padang lamunannya.
Inti obatnya ialah: sibukkan pikiranmu—di ranah ilmu dan konsepsi—dengan mengenal apa yang wajib bagimu tentang tauhid beserta hak-haknya; dengan kematian dan apa yang menyusulnya sampai masuk surga atau neraka; serta dengan cacat-cacat amal dan cara melindungi diri darinya. Di ranah kehendak dan tekad, kerahkan dirimu untuk menginginkan apa yang berguna bagimu dan menyingkirkan keinginan terhadap apa yang membahayakanmu.
Menurut para arif, sekadar berangan-angan untuk berkhianat dan memenuhi pikiran serta hati dengannya lebih merusak hati daripada pengkhianatan itu sendiri—terutama bila hati telah kosong darinya setelah perbuatan dilakukan—karena angan-angan itu menyibukkan hati, memenuhi ruangnya, dan menjadikannya tujuan utama.]