Ketahuilah, lintasan-lintasan hati dan bisikan-bisikan batin akan diserahkan oleh apa yang terkait dengannya kepada pikir-an; pikiran mengambilnya lalu menyerahkannya kepada ingatan; ingatan mengambilnya lalu menyerahkannya kepada kehendak; kehendak mengambilnya lalu menyerahkannya kepada anggota tubuh dan perbuatan, hingga ia menguat, mengakar, lalu menjadi kebiasaan. Karena itu, menolaknya sejak mula jauh lebih mudah daripada memutusnya setelah ia kuat dan sempurna.
Sudah dimaklumi pula bahwa manusia tidak dianugerahi kemampuan mematikan lintasan sama sekali, ataupun kekuatan memutusnya; sebab ia menerjang laksana hembusan nafas. Hanya saja, kekuatan iman dan akal menolongnya untuk menerima lintasan yang baik—meridhainya dan menenangkannya—serta menolak lintasan yang buruk—membencinya dan menjauh darinya. Para sahabat pernah berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami merasakan dalam dirinya sesuatu yang lebih ia sukai bila ia terbakar menjadi abu daripada mengucapkannya.” Beliau bertanya, “Apakah kalian benar-benar merasakannya?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Itulah iman yang murni.” Dalam riwayat lain: “Segala puji bagi Allah yang mengembalikan tipu dayanya sebatas bisikan.”
Mengenai hadis ini ada dua penjelasan. Pertama, menolak dan membenci bisikan itu sendiri adalah iman yang murni. Kedua, keberadaan bisikan—dilemparkan setan ke dalam jiwa—menjadi tanda iman yang murni; karena setan baru melemparkannya untuk menandingi iman dan menyingkirkannya.
Allah Mahasuci menciptakan jiwa bagaikan batu giling yang terus berputar dan mustahil berhenti; ia pasti akan menggiling apa pun yang dimasukkan ke dalamnya. Jika dimasukkan biji-bijian, ia menggilingnya; jika dimasukkan tanah atau kerikil, ia tetap menggilingnya. Maka pikiran-pikiran dan lintasan yang berkelana di dalam jiwa adalah