[Pasal
• Antara menunaikan hak-hak dalam keadaan terdesak dan menunaikannya dalam keadaan sehat berjarak amat jauh.
• “Sesungguhnya hamba-Ku—ya, seluruh hamba-Ku—ialah orang yang mengingat-Ku ketika ia sedang berhadapan dengan lawan tandingnya.” (1)
• “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berhadapan dengan suatu pasukan maka tetaplah teguh dan perbanyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (Al-Anfāl: 45)
• Bukan hal yang mengherankan apabila orang yang sehat dan luang berdiri dalam khidmah; yang menakjubkan justru orang yang lemah lagi sakit, diterpa aneka kesibukan dan keadaan yang silih berganti, namun hatinya tegak dalam khidmah, tidak tertinggal melakukan apa yang ia mampu.
Pasal
• Ma‘rifat kepada Allah Ta‘ālā terbagi dua:
Pertama: ma‘rifat pengakuan, yang dimiliki semua orang—yang saleh maupun yang fasik, yang taat maupun yang durhaka.
Kedua: ma‘rifat yang menumbuhkan rasa malu kepada-Nya, cinta kepada-Nya, keterikatan hati dengan-Nya, kerinduan bertemu-Nya, takut kepada-Nya, kembali kepada-Nya, merasa akrab dengan-Nya, dan lari dari makhluk menuju kepada-Nya. Inilah ma‘rifat khusus yang kerap disebut para ahli; tingkatan mereka di dalamnya tidak dapat dihitung kecuali oleh Dia yang telah memperkenalkan diri-Nya kepada mereka dan menyingkap bagi hati mereka sebagian dari pengetahuan-Nya yang disembunyikan-Nya dari selain mereka. Masing-masing menyinggung ma‘rifat ini sesuai kedudukannya dan kadar apa yang disingkapkan kepadanya.]