Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[…dan tidak menyimpang bersama
orang-orang yang menyimpang, yaitu mereka yang penyebab penyimpangannya adalah tidak mau menerima perjanjian itu, atau mereka menerimanya dengan terpaksa namun tidak mengambilnya dengan kekuatan dan tekad, dan tidak pernah menegur dirinya untuk memahaminya, merenungkannya, mengamalkan isinya, serta menunaikan pesan-pesannya. Perjanjian itu memang telah ditawarkan kepada mereka, tetapi pada saat yang sama masih melekat pada diri mereka keganasan masa remaja, agama kebiasaan, serta apa yang telah mereka warisi dari ayah dan ibu mereka. Maka mereka menyambut perjanjian itu sebagaimana seorang yang merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan dari ayah-kakeknya dan tradisi mereka; bukan seperti seorang yang mengerahkan seluruh perhatian dan hatinya untuk memahami perjanjian itu dan mengamalkannya—seolah-olah perjanjian itu datang kepadanya sendirian lalu dikatakan kepadanya: “Perhatikanlah apa yang ada di dalamnya, kemudian amalkanlah sesuai isinya!”

Apabila ia tidak menyambut perjanjiannya dengan sambutan seperti ini, ia pun berpaling kepada jalan kerabat dan kebiasaan yang telah berjalan pada keluarga, teman, tetangga, dan penduduk negerinya. Kalaupun ambisinya sedikit lebih tinggi, ia tetap akan berpaling kepada apa yang dianut para leluhurnya dan orang-orang sebelum mereka tanpa menoleh untuk merenungi dan memahami perjanjian itu; ia rela agamanya menjadi agama kebiasaan. Ketika setan mencium kelemahan ini dan melihat bahwa hanya itulah batas ambisi dan tekadnya, setan pun menimpakan kepadanya fanatisme kesukuan dan semangat buta terhadap ayah-ayah dan leluhurnya; setan menghiasi untuknya bahwa inilah kebenaran dan apa pun yang menyalahinya adalah kesesatan. Dengan fanatisme dan semangat buta yang tak berdasar ilmu itu, setan menampakkan hidayah dalam rupa kesesatan dan kesesatan dalam rupa hidayah. Ia pun ridha berada bersama kabilah dan kaumnya: ia memperoleh apa yang mereka peroleh dan menanggung apa yang mereka tanggung. Maka ia pun ditelantarkan dari hidayah, dan Allah membiarkan ia bergantung pada apa yang ia pilih. Seandainya datang kepadanya seluruh petunjuk yang bertentangan dengan kaum dan kabilahnya, niscaya ia tidak akan melihatnya selain sebagai kesesatan.

Akan tetapi, bila ambisinya lebih tinggi daripada itu, jiwanya lebih mulia, dan kedudukannya lebih luhur, ia akan menghadap untuk menjaga perjanjian, memahaminya, dan merenungkannya. Ia mengetahui bahwa pemilik perjanjian memiliki urusan yang tidak sama dengan selainnya; maka ia memaksa dirinya untuk mengenal Tuhannya melalui naskah perjanjian itu sendiri. Ia pun mendapati bahwa Sang Pemilik Perjanjian telah memperkenalkan Diri-Nya kepadanya—tentang Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, perbuatan-Nya, dan hukum-hukum-Nya—sehingga dari perjanjian itu ia mengenal: Dia adalah Yang Maha Berdiri Sendiri dan menegakkan selain-Nya; Dia Maha Kaya dari segala sesuatu, sedangkan segala sesuatu selain-Nya bergantung kepada-Nya; Dia bersemayam di atas Arasy-Nya, tinggi di atas seluruh makhluk-Nya; Dia melihat dan mendengar, ridha dan murka, mencintai dan membenci; Dia mengatur urusan kerajaan-Nya sementara Dia berada di atas Arasy-Nya; Dia berbicara, memerintah, dan melarang; Dia mengutus para rasul-Nya…]

المنحرفين، الذين كان سببُ انحرافهم عدمَ قبول العهد، أو قبلوه بكُرهٍ ولم يأخذوه بقوةٍ ولا عزيمةٍ ولا حدَّثوا أنفسَهم بفهمه وتدبره والعمل بما فيه وتنفيذ وصاياه، بل عُرِضَ عليهم العهدُ ومعهم ضَراوة الصبا ودين العادة وما ألفوا عليه الآباء والأمهات، فتلقَّوا العهدَ تلقيَ من هو مكتفٍ بما وجدَ عليه آباءه وسلفه وعادتهم، لا تلقّي من يجمع همَّه وقلبه على فهم العهد والعمل به، حتى كأن ذلك العهد أتاه وحده وقيل له: تأملْ ما فيه ثم اعملْ بموجبه! فإذا لم يتلقَّ عهدَه هذا التلقي أخلَد إلى سيرة القرابة وما استمرت عليه عادة أهله وأصحابه وجيرانه وأهل بلده! فإن عَلَتْ همته أخلد إلى ما عليه سلفه ومن تقدمه من غير التفاتٍ إلى تدبر العهد وفهمه، فرضي لنفسه أن يكون دينه دينَ العادة! فإذا شامَه الشيطان، ورأى هذا مبلغَ همته وعزيمته؛ رماه بالعصبية والحمية للآباء وسلفه، وزيَّن له أن هذا هو الحق وما خالفه باطلٌ، ومثَّل له الهدى في صورة الضلال والضلالَ في صورة الهدى بتلك العصبية والحمية التي أُسِّستْ على غير علم، فرِضاه أن يكون مع عشيرته وقومه له ما لهم وعليه ما عليهم، فخُذِل عن الهدى، وولَّاه الله ما تولى؛ فلو جاءه كل هدى يخالف قومَه وعشيرته لم يَره إلا ضلالة. وإذا كانت همته أعلى من ذلك ونفسه أشرف وقدره أعلى أقبلَ على حفظ عهده وفهمه وتدبره، وعلم أن لصاحب العهد شأنًا ليس كشأن غيره، فأخذ نفسه بمعرفته من نفس العهد، فوجدَه قد تعرف إليه وعرَّفه نفسَه وصفاتِه وأسماءه وأفعاله وأحكامه، فعرف من ذلك العهد: قيومًا بنفسه مقيمًا لغيره، غنيًّا عن كل ما سواه وكل ما سواه فقير إليه، مستوٍ على عرشه فوق جميع خلقه، يرى ويسمع، ويرضى ويغضب، ويحب ويبغضُ، ويدبر أمر مملكته وهو فوق عرشه متكلمٌ آمرٌ ناهٍ، يُرسل رسلَه

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie