dan tidak dikurangi darinya. Ia menjelaskan, “Hal ini karena Allah berfirman, ‘al-qawlu ladayya’—bukan ‘qawlî’; sebagaimana orang berkata, ‘tidak ada dusta di hadapanku’.
Maka menurut pendapat pertama, firman-Nya, “Dan Aku tidak menzhalimi hamba-hamba (Ku)” (Qâf: 29) merupakan kelanjutan makna dari firman-Nya, “Perkataan di sisi-Ku tidak dapat diubah”; maksudnya, apa yang telah Aku ucapkan dan janjikan pasti terlaksana, dan hal itu sepenuhnya adil—tanpa kezhaliman maupun ketidakadilan.
Adapun menurut pendapat kedua, Allah menegaskan dua sifat bagi-Nya: Pertama, kesempurnaan ilmu dan pengetahuan-Nya menghalangi adanya perubahan perkataan di hadapan-Nya dan menjadikan kebatilan mustahil dipasarkan kepada-Nya. Kedua, kesempurnaan keadilan dan kekayaan-Nya mencegah-Nya berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya.
Selanjutnya Dia mengabarkan tentang luasnya Jahanam; setiap kali sesuatu dilemparkan ke dalamnya, ia berkata, “Apakah masih ada tambahan?” (Qâf: 30). Keliru orang yang menafsirkan ucapan itu sebagai penafian—seakan bermakna, “Tidak ada lagi ruang bagiku.” Hadis sahih menolak penafsiran tersebut.
Kemudian Dia memberitakan bahwa surga didekatkan kepada orang-orang bertakwa, dan bahwa penghuninya adalah mereka yang memiliki empat sifat berikut.
Pertama: bersifat awwâb, yakni selalu kembali kepada Allah—dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju ingat. ʿUbaid bin ʿUmayr berkata, “Al-awwâb ialah orang yang…"