Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

dan tidak dikurangi darinya. Ia menjelaskan, “Hal ini karena Allah berfirman, ‘al-qawlu ladayya’—bukan ‘qawlî’; sebagaimana orang berkata, ‘tidak ada dusta di hadapanku’.

Maka menurut pendapat pertama, firman-Nya, “Dan Aku tidak menzhalimi hamba-hamba (Ku)” (Qâf: 29) merupakan kelanjutan makna dari firman-Nya, “Perkataan di sisi-Ku tidak dapat diubah”; maksudnya, apa yang telah Aku ucapkan dan janjikan pasti terlaksana, dan hal itu sepenuhnya adil—tanpa kezhaliman maupun ketidakadilan.

Adapun menurut pendapat kedua, Allah menegaskan dua sifat bagi-Nya: Pertama, kesempurnaan ilmu dan pengetahuan-Nya menghalangi adanya perubahan perkataan di hadapan-Nya dan menjadikan kebatilan mustahil dipasarkan kepada-Nya. Kedua, kesempurnaan keadilan dan kekayaan-Nya mencegah-Nya berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya.

Selanjutnya Dia mengabarkan tentang luasnya Jahanam; setiap kali sesuatu dilemparkan ke dalamnya, ia berkata, “Apakah masih ada tambahan?” (Qâf: 30). Keliru orang yang menafsirkan ucapan itu sebagai penafian—seakan bermakna, “Tidak ada lagi ruang bagiku.” Hadis sahih menolak penafsiran tersebut.

Kemudian Dia memberitakan bahwa surga didekatkan kepada orang-orang bertakwa, dan bahwa penghuninya adalah mereka yang memiliki empat sifat berikut.

Pertama: bersifat awwâb, yakni selalu kembali kepada Allah—dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menuju ingat. ʿUbaid bin ʿUmayr berkata, “Al-awwâb ialah orang yang…"

(1) Dalam naskah asli: "عندي". (2) Tambahan di luar naskah asli. (3) Dalam edisi cetak: "من". (4) Mengisyaratkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4848) dan Muslim (2848) dari Anas secara marfū‘: "Neraka Jahannam senantiasa berkata: ‘Apakah masih ada tambahan?’ hingga Rabb Yang Maha Perkasa meletakkan kaki-Nya di dalamnya, maka ia pun berkata: ‘Cukup, cukup.’" Hadis semisal terdapat pada Al-Bukhari (4568) dari Abu Hurairah. (5) Dalam naskah asli: "أحدها".
فيه ولا يُنْقَصُ منه. قال: لأنَّه قال: ﴿الْقَوْلُ لَدَيَّ﴾ (١)، ولم يقلْ: قولي، وهذا كما يُقالُ: لا يُكْذَبُ عندي. فعلى القول الأول يكونُ قولُه: ﴿وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (٢٩)﴾ [ق: ٢٩] من تمام قولِهِ: ﴿مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ﴾ في المعنى؛ أي: ما قلتُهُ ووَعدتُ به لا بدَّ من فعِلِه، ومع هذا فهو عدلٌ لا ظلمَ فيه ولا جَوْرَ. وعلى الثاني يكونُ قد وَصَفَ نفسَه بأمرينِ: أحدُهما: أنَّ كمال علمِهِ واطلاعِهِ يَمنع من تبديل القول بين يديْهِ وترويج الباطل عليه. و [الثاني: أنَّ] (٢) كمال عدلِهِ وغناه يَمنعُ من ظلمِهِ لعَبيدِهِ. ثم أخبرَ عن سَعَةِ جهنَّمَ، وأنها كلَّما أُلْقِيَ فيها ﴿تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ (٣٠)﴾ [ق: ٣٠]، وأخطأ من قال: إن ذلك للنفي؛ أي: ليس فيَّ (٣) مزيدٌ. والحديثُ الصحيحُ يَرُدُّ هذا التأويل (٤). ثم أخبر عن تقريب الجنَّة من المتَّقينَ، وأنَّ أهلَها هم الذين اتَّصفوا بهذه الصفاتِ الأربع: إحداها (٥): أن يكون أوَّابًا؛ أي: رَجَّاعًا إلى الله؛ من معصيتِهِ إلى طاعتِهِ، ومن الغفلةِ عنه إلى ذِكْرِهِ. قال عبيدُ بن عُميرٍ: الأوَّابُ: الذي
(١) الأصل: "عندي". (٢) زيادة على الأصل. (٣) ط: "من". (٤) يشير إلى ما رواه البخاري (٤٨٤٨) ومسلم (٢٨٤٨) عن أنس مرفوعًا: "لا تزال جهنم تقول: هل من مزيد، حتى يضع فيها ربّ العزة ﵎ قدمه، فتقول: قط قط". ونحوه عند البخاري (٤٥٦٨) عن أبي هريرة. (٥) الأصل: "أحدها".

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie