[… neraka, lalu ia masuk ke dalamnya.” (1)
Mereka juga meriwayatkan dari sebagian salaf, “Dosa terbesar di antara dosa besar adalah merasa aman dari makar Allah dan berputus asa dari rahmat-Nya.” (2)
Imam Ahmad menuturkan—dari ‘Aun bin ‘Abdillâh atau selainnya—bahwa ia pernah mendengar seseorang berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau buat aku aman dari makar-Mu.” Beliau mengingkari ucapan itu dan berkata, “Ucapkanlah: Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang yang merasa aman dari makar-Mu.”
Semua itu mereka bangun di atas landasan batil mereka, yaitu pengingkaran terhadap hikmah, tujuan, dan sebab. Menurut mereka, Allah tidak berbuat karena suatu hikmah maupun sebab; Dia berbuat semata-mata karena kehendak yang bebas dari hikmah, tujuan, dan sebab. Dia tidak berbuat demi sesuatu ataupun dengan sesuatu. Karena itu, menurut mereka, sah-sah saja bila Dia menyiksa hamba-hamba-Nya yang taat dengan siksaan paling pedih, dan justru melimpahi musuh-musuh-Nya dan para pelanggar dengan pahala yang besar; kedua hal itu sama saja bagi-Nya. Ketidakmungkinan terjadinya hal tersebut, kata mereka, baru diketahui bila ada berita dari Yang Benar bahwa Dia tidak akan melakukannya; saat itulah diketahui kemustahilannya, semata-mata karena adanya kabar bahwa hal itu tidak akan terjadi, bukan karena pada dirinya hal itu batil dan zalim. Sebab, menurut mereka, kezaliman itu sendiri mustahil terjadi; ia sama sekali tidak mungkin, layaknya menempatkan satu benda di dua tempat pada saat bersamaan, mengumpulkan malam dan siang dalam satu jam, atau menjadikan sesuatu sekaligus ada dan tiada pada waktu yang sama. Itulah hakikat “kezaliman” menurut mereka.
Maka ketika pelaku ibadah itu kembali merenung, ia berkata, “Dzat yang urusan-Nya tidak pernah tetap dan makar-Nya tidak bisa dihindari—bagaimana mungkin aku dapat menaruh kepercayaan dengan mendekat kepada-Nya? Bagaimana bisa diandalkan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya?
Padahal kita hanya memiliki masa yang singkat ini; bila di dalamnya kita meninggalkan kenikmatan, menahan syahwat, memikul beban ibadah, sementara kita tetap tidak yakin apakah Dia akan membalikkan iman kita menjadi kufur, tauhid kita menjadi syirik, ketaatan kita menjadi maksiat, kebajikan kita menjadi kefasikan, lalu menjatuhkan hukuman atas diri kita terus-menerus, maka sungguh kita orang-orang yang merugi di dunia dan di akhirat!!]