[Kemudian Dia menyebutkan sifat-sifat orang yang dilemparkan itu; Dia menyebutkan enam sifat:
- Ia seorang yang sangat kufur terhadap nikmat dan hak Allah; kufur terhadap agama-Nya, tauhid-Nya, nama-nama dan sifat-Nya; kufur terhadap para rasul-Nya dan malaikat-Nya; kufur terhadap kitab-kitab-Nya dan perjumpaan dengan-Nya.
- Ia bersikap keras kepala terhadap kebenaran, menolaknya karena pengingkaran dan kedegilan.
- Ia penghalang kebaikan; ini mencakup kebaikan yang berupa ihsan kepada dirinya sendiri—yakni ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah—serta kebaikan yang berupa ihsan kepada manusia. Jadi, ia tidak mempunyai kebaikan bagi dirinya maupun bagi sesamanya; beginilah keadaan kebanyakan manusia.
- Di samping menahan kebaikan, ia juga melampaui batas terhadap manusia: zalim, bengis, menyerang mereka dengan tangan dan lisannya.
- Ia penuh keraguan; artinya, ia pemilik syak dan ragu, dan pada saat yang sama melakukan setiap perkara yang mencurigakan. Seseorang disebut murîb apabila ia sarat kecurigaan.
- Di atas semua itu, ia musyrik terhadap Allah; ia menjadikan bersama Allah sesembahan lain yang ia sembah, ia cintai, ia marah dan ridha karenanya, ia bersumpah atas namanya, bernazar untuknya, serta berloyalitas dan bermusuhan karenanya.
Maka ia dan pendampingnya dari golongan setan saling bertikai; ia menimpakan kesalahan kepadanya dan menuduh dialah yang membuatnya durhaka dan sesat. Pendampingnya berkata, ‘Aku tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menyesatkannya atau membuatnya melampaui batas; tetapi ia sendiri berada dalam kesesatan yang jauh—ia memilihnya untuk dirinya dan lebih mengutamakannya daripada kebenaran,’ sebagaimana ucapan Iblis kepada penghuni Neraka, ‘Aku tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kalian selain (sekadar) menyeru kalian, lalu kalian pun memenuhi seruanku’ (Ibrâhîm: 22). Dengan demikian, pendamping yang dimaksud di sini adalah setannya; keduanya berbantahan di hadapan Allah.]