Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

Adapun sikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan, yang memudahkannya bagimu adalah pengetahuanmu bahwa tiada seorang pun yang pujiannya bermanfaat dan memperindah atau celaannya membahayakan dan memperburuk selain Allah semata; sebagaimana pernah dikatakan seorang Badui kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya pujianku adalah keindahan dan celaanku adalah kehinaan,” lalu beliau bersabda, “Itu hanya milik Allah.”(1)
Maka bersikaplah zuhud terhadap pujian orang yang pujiannya tidak memperindahmu dan terhadap celaan orang yang celaannya tidak memperburukmu, dan berhasratlah terhadap pujian Dzat yang seluruh keindahan ada pada pujian-Nya dan seluruh kehinaan ada pada celaan-Nya.
Engkau tidak akan mampu melakukan itu kecuali dengan sabar dan yakin; apabila engkau kehilangan keduanya, engkau bagaikan orang yang hendak menyeberangi lautan tanpa perahu.
Allah Ta‘ala berfirman, “Maka bersabarlah; sesungguhnya janji Allah itu benar, dan jangan sekali-kali orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan itu membuatmu goyah.” (QS. ar-Rūm: 60)
Dan Dia berfirman, “Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami tatkala mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24)

Pasal
Kenikmatan setiap orang bergantung pada kadar dirinya, ambisinya, dan kehormatan jiwanya:
Manusia yang paling mulia jiwanya, paling tinggi cita-citanya, dan paling luhur kedudukannya adalah orang yang kenikmatannya terletak pada mengenal Allah, mencintai-Nya, merindu untuk bertemu-Nya, dan berlembut kepada-Nya dengan apa yang Dia cintai dan ridhai; maka kenikmatannya berada pada keterarahannya kepada-Nya dan tertambatnya seluruh perhatiannya kepada-Nya. Di bawahnya ada tingkatan-tingkatan yang hanya Allah yang dapat menghitungnya, hingga berakhir pada orang yang kenikmatannya justru pada hal-hal paling hina berupa kotoran dan keji, dalam ucapan, perbuatan, maupun kesibukan; seandainya ditawarkan kepadanya apa yang menjadi kenikmatan orang pertama, jiwanya tidak akan sudi menerimanya atau menoleh kepadanya, bahkan mungkin merasa tersakiti karenanya; sebagaimana

(1) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3267) dari hadits al-Barā’ bin ‘Āzib. Ia berkata: “Hadits ini hasan.” Hadits ini juga memiliki syawāhid yang menguatkannya hingga mencapai derajat sahih.
وأما الزهدُ في الثناء والمدح فيُسهِّلُه عليك علمُك أنه ليس أحدٌ ينفعُ مدحُه وَيزِيْن ويَضرُّ ذمُّه وَيشينُ إلَّا الله وحده؛ كما قال ذلك الأعرابيُّ للنبي ﷺ: إن مدحي زَينٌ وَذمِّي شَينٌ. فقال: "ذلك الله ﷿" (١)؛ فازهد في مدح من لا يَزِينُك مدحه وفي ذمِّ من لا يَشِينك ذمُّهُ، وارغبْ في مدح مَن كلُّ الزين في مدحه وكل الشين في ذمِّه. ولن تقدر على ذلك إلا بالصبر واليقين؛ فمتى فقدتَ الصبر واليقين كنت كمن أراد السفر في البحر في غير مركبٍ. قال تعالى: ﴿فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ (٦٠)﴾ [الروم: ٦٠]. وقال تعالى: ﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (٢٤)﴾ [السجدة: ٢٤]. فصل لذَّةُ كل أحدٍ على حسب قدره وهمته وشرفِ نفسه: فأشرفُ النَّاس نفسًا وأعلاهم همةً وأرفعهم قدرًا من لذَّتُهُ في معرفة الله ومحبَّته والشوق إلى لقائه والتودُّد إليه بما يحبُّه ويرضاه؛ فلذَّتُه في إقباله عليه وعكوف همَّته عليه. ودون ذلك مراتبُ لا يُحصيها إلَّا الله، حتى تنتهي إلى من لذَّتُهُ في أخسِّ الأشياء من القاذورات والفواحش في كلِّ شيءٍ من الكلام والفعال والأشغال؛ فلو عُرض عليه ما يلتذُّ به الأولُ لم تَسمَح نفسُه بقبوله ولا الالتفات إليه وربما تألَّمتْ من ذلك؛ كما أن
(١) أخرجه الترمذي (٣٢٦٧) من حديث البراء بن عازب. وقال: "هذا حديث حسن". وله شواهد يرتقي بها إلى الصحة.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie