Adapun sikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan, yang memudahkannya bagimu adalah pengetahuanmu bahwa tiada seorang pun yang pujiannya bermanfaat dan memperindah atau celaannya membahayakan dan memperburuk selain Allah semata; sebagaimana pernah dikatakan seorang Badui kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya pujianku adalah keindahan dan celaanku adalah kehinaan,” lalu beliau bersabda, “Itu hanya milik Allah.”(1)
Maka bersikaplah zuhud terhadap pujian orang yang pujiannya tidak memperindahmu dan terhadap celaan orang yang celaannya tidak memperburukmu, dan berhasratlah terhadap pujian Dzat yang seluruh keindahan ada pada pujian-Nya dan seluruh kehinaan ada pada celaan-Nya.
Engkau tidak akan mampu melakukan itu kecuali dengan sabar dan yakin; apabila engkau kehilangan keduanya, engkau bagaikan orang yang hendak menyeberangi lautan tanpa perahu.
Allah Ta‘ala berfirman, “Maka bersabarlah; sesungguhnya janji Allah itu benar, dan jangan sekali-kali orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan itu membuatmu goyah.” (QS. ar-Rūm: 60)
Dan Dia berfirman, “Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami tatkala mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24)
Pasal
Kenikmatan setiap orang bergantung pada kadar dirinya, ambisinya, dan kehormatan jiwanya:
Manusia yang paling mulia jiwanya, paling tinggi cita-citanya, dan paling luhur kedudukannya adalah orang yang kenikmatannya terletak pada mengenal Allah, mencintai-Nya, merindu untuk bertemu-Nya, dan berlembut kepada-Nya dengan apa yang Dia cintai dan ridhai; maka kenikmatannya berada pada keterarahannya kepada-Nya dan tertambatnya seluruh perhatiannya kepada-Nya. Di bawahnya ada tingkatan-tingkatan yang hanya Allah yang dapat menghitungnya, hingga berakhir pada orang yang kenikmatannya justru pada hal-hal paling hina berupa kotoran dan keji, dalam ucapan, perbuatan, maupun kesibukan; seandainya ditawarkan kepadanya apa yang menjadi kenikmatan orang pertama, jiwanya tidak akan sudi menerimanya atau menoleh kepadanya, bahkan mungkin merasa tersakiti karenanya; sebagaimana