• Junayd berkata: “Aku pernah masuk menemui seorang pemuda; ia bertanya kepadaku tentang tobat, lalu aku menjawabnya. Ia kembali bertanya kepadaku tentang hakikat tobat; aku berkata, ‘Engkau menegakkan dosamu di hadapan kedua matamu hingga maut menjemputmu.’ Ia berkata kepadaku, ‘Cukup! Itu bukan hakikat tobat.’ Aku pun bertanya, ‘Lalu apa hakikat tobat menurutmu, wahai anak muda?’ Ia menjawab, ‘Engkau melupakan dosamu.’ Kemudian ia meninggalkanku dan pergi. [Seseorang bertanya:] ‘Bagaimana pendapatmu, wahai Abul Qasim?’ Aku menjawab, ‘Perkataan adalah seperti yang dikatakan pemuda itu.’ Ia bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Aku menjawab, ‘Bila aku bersama-Nya dalam suatu keadaan, lalu Dia memindahkanku dari keadaan ketidaksetiaan ke keadaan kesetiaan, maka mengingat ketidaksetiaan itu saat berada dalam kesetiaan adalah ketidaksetiaan.’ (1)
Pasal
Ikhlas tidak akan bersatu di dalam hati bersama cinta kepada pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang ada di tangan manusia—sebagaimana air tak mungkin bersatu dengan api, dan kadal padang pasir tak mungkin bersatu dengan ikan.
Maka apabila dirimu membisikkan keinginan untuk meraih ikhlas, hadapilah lebih dahulu ketamakan dan sembelihlah ia dengan pisau keputusasaan; hadapilah pujian dan sanjungan, lalu bersikaplah zuhud terhadap keduanya sebagaimana para pencinta dunia bersikap zuhud terhadap akhirat. Bila engkau berhasil menyembelih ketamakan dan berzuhud dari pujian serta sanjungan, niscaya ikhlas akan mudah bagimu.
Jika engkau bertanya, ‘Apa yang memudahkan bagiku menyembelih ketamakan dan berzuhud dari pujian serta sanjungan?’
Aku katakan: Adapun menyembelih ketamakan, yang memudahkannya bagimu adalah keyakinanmu bahwa tidak ada sesuatu pun yang diharapkan melainkan perbendaharaannya berada di tangan Allah semata; tak seorang pun selain Dia yang memilikinya, dan tak seorang pun dapat memberikan kepada seorang hamba sedikit pun darinya selain Dia.