[Kedua: meninggalkan segala penghalang yang menghambatnya untuk memfokuskan tujuan dan jalannya, serta memutusnya.
Ketiga: memutus ikatan-ikatan hati yang menghalangi dirinya dari memurnikan keterikatan kepada tujuan.
Perbedaan keduanya: penghalang (ʻawāʾiq) adalah peristiwa-peristiwa lahiriah, sedangkan ikatan (ʻalāʾiq) ialah keterikatan hati kepada hal-hal mubah dan semacamnya.
Akar semua itu ialah meninggalkan segala hal berlebih yang menyibukkan dari maksud—makan, minum, tidur, dan pergaulan; hendaklah ia mengambil darinya sekadar yang menolongnya dalam pencarian, dan menolak apa pun yang memutus atau melemahkan upayanya.
Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.
Pasal: sebagian perkataan ʿAbdullâh bin Masʿûd radhiyallâhu ʿanhu
• Seorang lelaki di hadapannya berkata, “Aku tidak ingin menjadi golongan kanan; aku ingin menjadi golongan yang didekatkan!” Ibn Masʿûd menjawab, “Tetapi di sini ada seorang lelaki yang justru ingin, apabila ia mati, ia tidak dibangkitkan.”—yakni dirinya sendiri (1).
• Suatu hari beliau keluar, lalu beberapa orang mengikutinya. Ia bertanya, “Apakah kalian mempunyai keperluan?” Mereka menjawab, “Tidak, kami hanya ingin berjalan bersamamu.” Ia berkata, “Pulanglah, karena itu kehinaan bagi yang mengikuti dan cobaan bagi yang diikuti.” (2)
• Ia juga berkata, “Sekiranya kalian mengetahui tentang diriku apa yang aku ketahui tentang diriku, niscaya kalian akan menaburkan di atas kepalaku…]