[Maka orang yang cerdas menempuh jarak perjalanan—dengan keteguhan tekad, keluhuran cita-cita, pemurnian maksud, serta ketulusan niat—melalui amal yang sedikit berkali-kali lipat lebih jauh daripada yang ditempuh oleh orang yang hampa dari semua itu meskipun dengan jerih payah yang banyak dan perjalanan yang berat; sebab tekad dan cinta melenyapkan kepayahan dan membuat perjalanan terasa lezat. Keunggulan dan percepatan menuju Allah Subḥānahu wa Taʿālā sesungguhnya diraih dengan semangat, ketulusan kehendak, dan kokohnya azam; karena itu, pemilik semangat—meskipun ia tampak tenang—mendahului orang yang banyak beramal dengan beberapa tahapan; apabila orang kedua menyainginya dalam semangat, barulah amalnya mengunggulinya.
Ini adalah persoalan yang memerlukan perincian agar Islam berpadu dengan iḥsān: teladan yang paling sempurna ialah petunjuk Rasulullah ﷺ; beliau menunaikan hak masing-masing keduanya dengan sempurna. Maka, dengan kesempurnaan beliau, kehendaknya, dan keadaan beliau bersama Allah, beliau berdiri (salat malam) sampai kedua telapak kakinya bengkak, berpuasa hingga orang berkata, “Beliau tidak berbuka,” berjihad di jalan Allah, bergaul dengan para sahabat dan tidak menutup diri dari mereka, serta tidak meninggalkan sedikit pun amalan sunah maupun wirid karena limpahan (spiritual) yang tak sanggup ditanggung kekuatan manusia.
Allah Taʿālā memerintahkan hamba-hamba-Nya agar menegakkan syariat Islam pada lahiriah mereka dan hakikat iman pada batin mereka; Dia tidak menerima salah satunya kecuali bersama pasangannya.
Dalam Musnad diriwayatkan secara marfūʿ: “Islam itu tampak di lahir, sedangkan iman berada di hati.” (1)
Maka setiap Islam lahiriah yang tidak mengantarkan pelakunya kepada hakikat iman batin tidaklah bermanfaat, hingga bersamanya ada sebagian iman batin; dan setiap hakikat batin…]