Allah Ta‘ala berfirman: “Orang-orang Arab Badui itu lebih keras kekufuran dan kemunafikannya, serta lebih pantas untuk tidak mengetahui batas-batas apa yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya.” (QS. at-Taubah: 97).
Maka manusia yang paling adil ialah orang yang menegakkan batas-batas akhlak, amal, dan syariat—baik secara pengetahuan maupun perbuatan. Dan kepada Allah-lah pertolongan.
Pasal
Abu ad-Dardā’ radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Alangkah nikmatnya tidur dan berbukanya orang-orang cerdas; betapa dengan itu mereka meraih keuntungan dibanding qiyāmnya orang-orang dungu dan puasa mereka; dan seserpih atom dari seorang yang bertakwa lebih utama daripada ibadah sebesar gunung-gunung yang dilakukan oleh orang-orang yang tertipu!” (1)
Ini termasuk mutiara kata yang paling indah dan sekaligus bukti paling gamblang tentang kesempurnaan pemahaman para sahabat serta ketunggulan mereka atas generasi sesudahnya dalam seluruh kebaikan—raḍiyallāhu ‘anhum.
Ketahuilah, seorang hamba menempuh tahapan perjalanan menuju Allah dengan hati dan tekadnya, bukan dengan tubuhnya; dan hakikat takwa itu adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan.
Allah Ta‘ala berfirman: “Demikianlah; barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu bersumber dari takwa hati.” (QS. al-Ḥajj: 32).
Dan Dia berfirman: “Daging dan darah hewan kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (QS. al-Ḥajj: 37).
Nabi ﷺ bersabda, “Takwa itu di sini,” sambil menunjuk ke dadanya (2).