[…sampai aku berkata, “Siapakah manusia paling pengecut?!” Ia pun menjawab:
“Aku ini berani kala peluang datang padaku;
tetapi bila peluang itu tiada, aku pengecut.”
Kecemburuan pun ada batasnya; jika melampauinya, ia berubah menjadi tuduhan dan prasangka buruk terhadap orang yang tak bersalah, sedangkan jika kurang darinya, ia menjadi kelengahan dan benih hilangnya rasa cemburu menjaga kehormatan.
Kerendahan hati memiliki ukuran; bila melewatinya ia menjadi kehinaan dan kerendahdirian, dan bila kurang darinya ia bergeser menjadi kesombongan dan kebanggaan diri.
Kemuliaan juga ada batas; bila melampauinya ia berubah menjadi kesombongan dan akhlak tercela, dan bila kurang darinya ia bergeser menjadi kehinaan dan kerendahan.
Pengatur semua itu adalah keadilan: mengambil posisi tengah yang diletakkan di antara dua ujung—berlebihan dan teledor. Di atasnyalah kemaslahatan dunia dan akhirat dibangun; bahkan maslahat jasmani pun tak akan tegak tanpanya, sebab ketika salah satu unsur campuran tubuh keluar dari keseimbangan—melebihi atau kurang darinya—kesehatan dan kekuatan berkurang sebanding dengannya. Demikian pula aktivitas-aktivitas alami seperti tidur dan begadang, makan dan minum, hubungan suami-istri, bergerak dan berolahraga, menyendiri dan bergaul, dan lain-lain: bila berada di tengah antara dua sisi tercela, ia adil; bila condong ke salah satunya, ia cacat dan menimbulkan cacat.
Karena itu, di antara ilmu yang paling mulia dan paling bermanfaat ialah ilmu tentang batas-batas, terutama batas-batas syariat berupa perintah dan larangan; orang paling berilmu adalah yang paling mengetahui batas-batas tersebut, sehingga tidak memasukkan ke dalamnya apa yang bukan darinya, dan tidak mengeluarkan darinya apa yang memang termasuk di dalamnya.]