akibat segala perkara, serta ridha terhadap apa yang Dia pilihkan dan tetapkan baginya, karena ia berharap akan kebaikan akhir di baliknya.
Di antaranya pula: ia tidak mengajukan usul kepada Rabb-nya, tidak mendahulukan pilihannya di atas pilihan-Nya, dan tidak meminta sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahui hakikatnya; boleh jadi di dalamnya terdapat bahaya dan kebinasaan yang tidak ia ketahui. Karena itu ia tidak memilih apa pun di hadapan Rabb-nya, melainkan memohon agar Allah memilihkan yang terbaik untuknya dan menjadikannya ridha dengan pilihan-Nya; tidak ada yang lebih bermanfaat baginya daripada hal ini.
Termasuk juga: apabila ia telah mendelegasikan urusan kepada Rabb-nya dan ridha dengan apa yang dipilihkan-Nya, Allah akan menolongnya dalam pilihan itu dengan kekuatan, tekad, dan kesabaran; Dia akan menolak darinya bencana-bencana yang menjadi risiko pilihan manusia terhadap dirinya sendiri, serta memperlihatkan kepadanya kebaikan akhir dari pilihan-Nya—kebaikan yang takkan pernah ia raih, meski hanya sebagian, melalui pilihannya sendiri.
Hikmah selanjutnya: Allah membebaskannya dari pikiran-pikiran melelahkan tentang berbagai alternatif, mengosongkan hatinya dari perhitungan dan rekayasa yang membuatnya naik di satu tanjakan lalu turun di tanjakan lain—padahal ia tetap tidak akan lepas dari apa yang telah ditakdirkan. Apabila ia ridha dengan pilihan Allah, takdir menimpanya dalam keadaan ia terpuji, disyukuri, dan disertai kelembutan; sebaliknya, bila ia menolak, takdir tetap berjalan atasnya dalam keadaan ia tercela dan tanpa kelembutan, karena ia bersandar pada pilihannya sendiri.
Apabila pendelegasian dan keridhaannya benar-benar kokoh, kasih sayang dan kelembutan Allah akan memayunginya di dalam apa yang ditakdirkan, sehingga ia berada di antara kasih sayang dan kelembutan-Nya: kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, sedangkan kelembutan-Nya meringankan baginya apa yang telah ditentukan.
Ketika takdir telah berlaku pada seorang hamba, salah satu penyebab terbesarnya adalah tipu dayanya dalam berusaha menolaknya; maka tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat baginya selain berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan takdir bagaikan bangkai yang tergeletak, karena binatang buas pun enggan memakan bangkai.