[Seandainya orang berakal membayangkan betapa pedih dan sesalnya hal itu, niscaya ia akan segera memutus keterlekatan ini sebagaimana ia bergegas membasmi sumber-sumber kerusakan; namun demikian, ia tetap memperoleh bagiannya, sementara hati dan cita-citanya terpaut pada tujuan tertinggi. Dan kepada Allah-lah dimohon pertolongan.
Pasal
Jauhilah dusta; sebab ia merusak persepsimu terhadap fakta sebagaimana adanya, dan merusak pula cara engkau menggambarkannya serta mengajarkannya kepada manusia!
Seorang pendusta menggambarkan yang tidak ada sebagai ada dan yang ada sebagai tidak ada, menjadikan kebenaran tampak batil dan kebatilan tampak benar, kebaikan tampak buruk dan keburukan tampak baik; maka rusaklah persepsi dan ilmunya sebagai hukuman baginya. Selanjutnya ia menanamkan gambaran itu ke dalam diri orang yang diajak bicara—yang tertipu dan bersandar kepadanya—sehingga rusak pulalah persepsi dan ilmu orang tersebut.
Diri si pendusta berpaling dari realitas yang ada, condong kepada ketiadaan, dan lebih menyukai kebatilan.
Ketika daya persepsi dan ilmunya—yang merupakan pangkal setiap perbuatan yang disengaja—telah rusak, rusaklah perbuatan-perbuatannya; hukum dusta pun merembes ke sana, sehingga keluarnya perbuatan-perbuatan itu darinya seperti keluarnya dusta dari lisannya; ia pun tidak lagi mendapat manfaat dari lisannya maupun dari amalnya.
Karena itulah dusta menjadi pondasi kefajiran; sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya dusta menuntun kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun ke neraka.” (1)
Dan mula-mula dusta menjalar dari jiwa ke lisan lalu merusaknya, kemudian menjalar ke]