Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[Seandainya orang berakal membayangkan betapa pedih dan sesalnya hal itu, niscaya ia akan segera memutus keterlekatan ini sebagaimana ia bergegas membasmi sumber-sumber kerusakan; namun demikian, ia tetap memperoleh bagiannya, sementara hati dan cita-citanya terpaut pada tujuan tertinggi. Dan kepada Allah-lah dimohon pertolongan.

Pasal
Jauhilah dusta; sebab ia merusak persepsimu terhadap fakta sebagaimana adanya, dan merusak pula cara engkau menggambarkannya serta mengajarkannya kepada manusia!
Seorang pendusta menggambarkan yang tidak ada sebagai ada dan yang ada sebagai tidak ada, menjadikan kebenaran tampak batil dan kebatilan tampak benar, kebaikan tampak buruk dan keburukan tampak baik; maka rusaklah persepsi dan ilmunya sebagai hukuman baginya. Selanjutnya ia menanamkan gambaran itu ke dalam diri orang yang diajak bicara—yang tertipu dan bersandar kepadanya—sehingga rusak pulalah persepsi dan ilmu orang tersebut.
Diri si pendusta berpaling dari realitas yang ada, condong kepada ketiadaan, dan lebih menyukai kebatilan.
Ketika daya persepsi dan ilmunya—yang merupakan pangkal setiap perbuatan yang disengaja—telah rusak, rusaklah perbuatan-perbuatannya; hukum dusta pun merembes ke sana, sehingga keluarnya perbuatan-perbuatan itu darinya seperti keluarnya dusta dari lisannya; ia pun tidak lagi mendapat manfaat dari lisannya maupun dari amalnya.
Karena itulah dusta menjadi pondasi kefajiran; sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya dusta menuntun kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun ke neraka.” (1)
Dan mula-mula dusta menjalar dari jiwa ke lisan lalu merusaknya, kemudian menjalar ke]

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (6094) dan Muslim (2607) dari Ibnu Mas‘ud.
فلو تصور العاقلُ ما في ذلك من الألم والحسرة لبادرَ إلى قطع هذا التعلُّق كما يُبادِرُ إلى حَسْم موادِّ الفساد، ومع هذا فإنه ينالُ نصيَبه من ذلك؛ وقلبُه وهمُّه متعلقٌ بالمطلب الأعلى. والله المستعانُ. فصل إياك والكذبَ؛ فإنَّه يُفْسِدُ عليك تصوُّرَ المعلومات على ما هي عليه، ويُفسِد عليك تصويرَها وتعليمَها للناس! فإن الكاذب يُصوِّرُ المعدومَ موجودًا والموجودَ معدومًا، والحقَّ باطلًا والباطلَ حقًّا، والخير شرًّا والشرَّ خيرًّا؛ فيفسُدُ عليه تصوُّرُه وعلمه عقوبةً له. ثم يُصوِّر ذلك في نفس المخاطب المغترّ به الراكن إليه؛ فيُفسِدُ عليه تصوُّرَه وعلمه. ونفس الكاذب معرضةٌ عن الحقيقة الموجودة، نزَّاعةٌ إلى العدم، مُؤثِرةٌ للباطل. وإذا فسدتْ عليه قوةُ تصوُّره وعلمه التي هي مبدأ كلِّ فعل إراديٍّ؛ فسدتْ عليه تلك الأفعالُ، وسَرى حكم الكذب إليها، فصار صدورُها عنه كصدور الكذب عن اللسان؛ فلا ينتفع بلسانه ولا بأعماله. ولهذا كان الكذبُ أساسَ الفجور؛ كما قال النبي ﷺ: "إنَّ الكذب يهدي إلى الفُجور، وإن الفجور يهدي إلى النَّار" (١). وأولُ ما يَسرِي الكذبُ من النفس إلى اللسان فيُفسِدُه، ثم يسري إلى
(١) أخرجه البخاري (٦٠٩٤) ومسلم (٢٦٠٧) عن ابن مسعود.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie