[…bagi orang-orang yang mendapat petunjuk antara ketakwaan dan petunjuk.
Fasal
Sebagaimana Dia—Mahasuci dan Mahatinggi—mengaitkan antara petunjuk dan ketakwaan, serta antara kesesatan dan penyimpangan, demikian pula Dia mengaitkan antara petunjuk dan rahmat, serta antara kesesatan dan kesengsaraan.
Di antara (hubungan) yang pertama ialah firman-Nya:
“Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Luqmān: 5).
Dan Dia berfirman: “Merekalah yang memperoleh salawat dari Rabb mereka dan rahmat, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 157).
Dan Dia berfirman tentang orang-orang beriman: “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau belokkan hati kami sesudah Engkau memberi kami petunjuk; dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (‘Āl ʿImrān: 8).
Dan para pemuda penghuni gua berkata: “Ya Rabb kami, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sediakanlah bagi kami, dalam urusan kami ini, jalan yang benar.” (al-Kahfi: 10).
Dan Dia berfirman: “Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur’an ini bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan pembenaran terhadap (wahyu) yang ada sebelumnya, penjelasan atas segala sesuatu, serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yūsuf: 111).
Dan Dia berfirman: “Kami tidak menurunkan kepadamu Kitab ini melainkan agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” (an-Naḥl: 64).
Dan Dia berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Kitab ini sebagai penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum muslimin.” (an-Naḥl: 89).
Dan Dia berfirman: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penawar bagi apa yang ada di dalam dada,”]