makna penghambaan diri (hlm. 31) beserta tingkatan-tingkatannya (hlm. 163); buah dari iman kepada sifat-sifat Ilahi (hlm. 98); bertawassul dengan Nama-nama Allah yang Terindah (hlm. 36); hakikat tawakal dan macam-macamnya (hlm. 124, 165); pembahasan tentang qadha dan qadar (hlm. 33), rezeki dan ajal (hlm. 79); bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah sedangkan dosa bersumber dari setan (hlm. 296); serta bahwa syafaat Rasul ﷺ diraih dengan menaati beliau (hlm. 226)—dan berbagai bahasan lain yang berhubungan dengan tauhid.
Ada pula kajian-kajian agung dalam tafsir dan ilmu Al-Qur’an, antara lain penjelasan syarat-syarat agar dapat mengambil manfaat dari Al-Qur’an (hlm. 3); ragam bentuk berpaling dari Al-Qur’an (hlm. 118); renungan seputar Surah Al-Fâtihah (hlm. 26), Surah Qâf (hlm. 5), dan Surah At-Takâtsur (hlm. 43); serta tafsir sejumlah ayat (hlm. 23, 33, 114, 115, 127, 130, 146, 199, 237, 246, 259, 273, dan lain-lain).
Penulis juga sesekali menjelaskan beberapa hadis, seperti hadis Ibnu Mas‘ûd tentang kegelisahan dan kesedihan (hlm. 30); sabda Nabi ﷺ, “Islam tampak di luar sedangkan iman berada di dalam hati” (hlm. 207); firman Allah Ta‘âlâ kepada para pejuang Badar, “Berbuatlah sesukamu, sungguh Aku telah mengampunimu” (hlm. 20); sabda beliau ﷺ, “Bertakwalah kepada Allah dan perindahlah cara kalian mencari (rezeki)” (hlm. 81); serta sabda beliau ﷺ, “Apabila anak Adam memasuki pagi, seluruh anggota badan menegur lisannya” (hlm. 81).
Beliau juga mengulas panjang lebar satu masalah usul penting, yakni bahwa meninggalkan perintah-perintah Allah lebih besar dosanya di sisi-Nya daripada melakukan larangan-larangan, dan beliau menegaskannya melalui banyak sisi (hlm. 171).
Di dalam buku ini terdapat pula pasal-pasal penting tentang keutamaan ilmu (hlm. 151), jenis dan penyakitnya (hlm. 122), tingkatan-tingkatan ilmu (hlm. 84), sifat-sifat ulama buruk (hlm. 85), serta peringatan bagi seorang alim agar tidak terpikat dunia dan bersandar kepadanya (hlm. 145).