Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[salat: "Ya Allah! bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."

Yang dimaksud dengan zikir bukanlah semata-mata ucapan lisan, melainkan zikir hati sekaligus lisan; mengingat-Nya mencakup mengingat nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah serta larangan-Nya, dan mengingat-Nya melalui firman-Nya. Hal ini menuntut ma‘rifah terhadap-Nya, keimanan kepada-Nya, kepada sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan keelokan keagungan-Nya, serta menyanjung-Nya dengan berbagai macam pujian—dan semua itu tidak sempurna kecuali dengan mentauhidkan-Nya.

Zikir yang hakiki menuntut seluruh hal tersebut sekaligus menuntut pengingatan terhadap nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya.

Adapun syukur ialah menjalankan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala sesuatu yang Dia cintai, lahir maupun batin.

Kedua perkara ini merupakan inti agama; zikir meniscayakan ma‘rifah terhadap-Nya, sedangkan syukur mengandung ketaatan kepada-Nya.

Keduanya pulalah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi; demi keduanya pula pahala dan siksa ditetapkan, kitab-kitab diturunkan, dan para rasul diutus. Inilah kebenaran (al-ḥaqq) yang dengannya langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya diciptakan; lawannya adalah kebatilan dan kesia-siaan yang Dia Mahatinggi dan Mahasuci darinya—itulah prasangka musuh-musuh-Nya terhadap-Nya.

Allah Taʿālā berfirman, “Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia; yang demikian itu adalah dugaan orang-orang kafir” (Ṣād: 27).]

(1) Diriwayatkan oleh Ahmad (5/244, 247), Abu Dawud (1522), dan an-Nasai (3/53) dari Mu’adz. Sanadnya sahih.
صلاةٍ: اللهمَّ! أعِنّي على ذِكْركَ وشُكْرِكَ وحُسْنِ عبادَتِكَ" (١). وليس المرادُ بالذِّكْرِ مجرد ذكر اللسان، بل الذكر القلبي واللساني، وذكره يتضمن ذكرَ أسمائِهِ وصفاته، وذكرَ أَمرهِ ونهيهِ وذِكْرَهُ بكلامه، وذلك يستلزمُ معرفتَهُ والإيمان به وبصفات كمالهِ ونعوتِ جلالِهِ والثناء عليه بأنواع المدح، وذلك لا يتمُّ إلا بتوحيده. فذكره الحقيقيُّ يستلزمُ ذلك كلَّه ويستلزم ذكر نعمهِ وآلائِهِ وإحسانِهِ إلى خلقه. وأما الشكرُ فهو القيامُ له بطاعته والتقرُّبُ إليه بأنواع محابِّه ظاهرًا وباطنًا. وهذان الأمران هما جِمَاعُ الدِّين؛ فذكره مستلزمٌ لمعرفته، وشكره متضمنٌ لطاعته. وهذان هما الغايةُ التي خَلقَ لأجلها الجنَّ والإنس والسماوات والأرض، ووضع لأجلها الثواب والعقاب، وأنزل الكُتُبَ، وأرْسل الرُّسُلَ، وهي الحق الذي به خُلِقَتِ السماواتُ والأرضُ وما بينهما، وضدُّها هو الباطلُ والعبثُ الذي يتعالى ويتقدَّسُ عنه، وهو ظنُّ أعدائه به. قال الله تعالى: ﴿وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَينَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا﴾ [ص: ٢٧].
(١) أخرجه أحمد (٥/ ٢٤٤، ٢٤٧) وأَبو داود (١٥٢٢) والنسائي (٣/ ٥٣) عن معاذ. وإسناده صحيح.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie