[salat: "Ya Allah! bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."
Yang dimaksud dengan zikir bukanlah semata-mata ucapan lisan, melainkan zikir hati sekaligus lisan; mengingat-Nya mencakup mengingat nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah serta larangan-Nya, dan mengingat-Nya melalui firman-Nya. Hal ini menuntut ma‘rifah terhadap-Nya, keimanan kepada-Nya, kepada sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan keelokan keagungan-Nya, serta menyanjung-Nya dengan berbagai macam pujian—dan semua itu tidak sempurna kecuali dengan mentauhidkan-Nya.
Zikir yang hakiki menuntut seluruh hal tersebut sekaligus menuntut pengingatan terhadap nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya.
Adapun syukur ialah menjalankan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala sesuatu yang Dia cintai, lahir maupun batin.
Kedua perkara ini merupakan inti agama; zikir meniscayakan ma‘rifah terhadap-Nya, sedangkan syukur mengandung ketaatan kepada-Nya.
Keduanya pulalah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi; demi keduanya pula pahala dan siksa ditetapkan, kitab-kitab diturunkan, dan para rasul diutus. Inilah kebenaran (al-ḥaqq) yang dengannya langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya diciptakan; lawannya adalah kebatilan dan kesia-siaan yang Dia Mahatinggi dan Mahasuci darinya—itulah prasangka musuh-musuh-Nya terhadap-Nya.
Allah Taʿālā berfirman, “Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia; yang demikian itu adalah dugaan orang-orang kafir” (Ṣād: 27).]