[Tak ada satu pun hal yang lebih menggambarkan kegembiraan itu daripadanya(1). Kegembiraan ini semata-mata muncul karena dilaksanakannya apa yang diperintahkan, yaitu tobat. Karena itulah Dia menakdirkan dosa agar darinya lahir kegembiraan agung tersebut—kegembiraan yang keberadaannya lebih Dia cintai daripada ketiadaannya, sementara keberadaannya tanpa sebabnya mustahil—maka hal itu menegaskan bahwa keberadaan sesuatu yang Dia cintai lebih Dia cintai daripada lenyapnya sesuatu yang Dia benci.
Bukan maksudnya bahwa setiap individu dari hal-hal yang dicintai-Nya lebih Dia cintai daripada lenyapnya setiap individu dari hal-hal yang dibenci-Nya, seakan-akan dua rakaat salat Duha lebih Dia cintai daripada terhindarnya pembunuhan seorang muslim. Yang dimaksud ialah bahwa jenis pelaksanaan perintah pada umumnya lebih utama daripada jenis menjauhi larangan; sebagaimana ketika dinyatakan bahwa laki-laki lebih utama daripada perempuan atau manusia(2) lebih utama daripada malaikat: penilaian itu berlaku pada jenisnya, bukan pada tiap-tiap individunya.
Intinya, kegembiraan tiada tara yang muncul karena terlaksananya perintah untuk bertobat ini menunjukkan bahwa perintah tersebut lebih Dia cintai daripada sekadar lenyapnya larangan yang—jika ditinggalkan—menghilangkan tobat beserta pengaruh dan konsekuensinya.
Apabila ada yang berkata, “Dia bergembira atas tobat karena tobat berarti meninggalkan yang terlarang; jadi kegembiraan itu adalah kegembiraan karena meninggalkan,” maka jawabnya: Tidak begitu. Meninggalkan suatu perbuatan semata tidak melahirkan kegembiraan ini, bahkan tidak pula menghasilkan pahala atau pujian. Tobat itu sendiri bukanlah sekadar meninggalkan—meskipun meninggalkan termasuk konsekuensinya—melainkan sebuah tindakan positif yang bersifat wujud: ia mencakup kembalinya seorang hamba kepada Rabb-nya, penghadapannya kepada-Nya, dan komitmennya untuk taat. Salah satu implikasinya memang meninggalkan apa yang dilarang. Karena itu Allah Taʿala berfirman, “Dan mohonlah ampunlah kepada Rabb-mu, kemudian bertobatlah kepada-Nya” (Hûd: 3). Maka tobat adalah kembali dari apa yang dibenci menuju apa yang dicintai, bukan sekadar meninggalkan; sebab siapa pun yang hanya meninggalkan dosa tanpa kembali, ia belumlah bertobat.]