[diri sendiri, hingga dirinya terasa remeh baginya demi Allah. Ada pula satu zuhud yang mencakup semua itu, yakni zuhud terhadap segala sesuatu selain Allah dan terhadap apa pun yang menyibukkanmu dari-Nya.
Zuhud yang paling utama ialah menyembunyikan zuhud.
Yang paling sulit adalah zuhud dari kepentingan-kepentingan diri.
Perbedaan antara zuhud dan wara’: zuhud berarti meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara’ berarti meninggalkan apa yang dikhawatirkan membahayakan di akhirat.
Hati yang terpaut pada syahwat tidak akan sah baginya zuhud maupun wara’.
Yahya bin Mu‘adz berkata, “Aku heran terhadap tiga hal: seseorang yang berbuat riya dengan amalnya kepada makhluk sejenisnya dan enggan melakukannya untuk Allah; seseorang yang kikir dengan hartanya padahal Rabb-nya meminta pinjaman darinya namun ia tidak meminjamkan sedikit pun; dan seseorang yang lebih suka bersahabat serta berkasih sayang dengan makhluk, padahal Allah mengajaknya bersahabat dan berkasih sayang dengan-Nya.”
Faedah Agung
Sahl bin ‘Abdullah berkata, “Meninggalkan perintah di sisi Allah lebih berat daripada melakukan larangan; sebab Adam dilarang memakan buah pohon, lalu ia memakannya dan Allah menerima tobatnya, sedangkan Iblis diperintah bersujud kepada Adam namun ia tidak bersujud, maka ia tidak ditaubati.”
Aku (penulis) berkata: Ini masalah besar yang memiliki bobot: meninggalkan perintah lebih agung di sisi Allah daripada melakukan larangan (1), dan hal itu ditinjau dari banyak sisi.
Pertama: seperti yang disebutkan Sahl tentang (kisah) Adam dan musuh Allah, Iblis.]