Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[diri sendiri, hingga dirinya terasa remeh baginya demi Allah. Ada pula satu zuhud yang mencakup semua itu, yakni zuhud terhadap segala sesuatu selain Allah dan terhadap apa pun yang menyibukkanmu dari-Nya.
Zuhud yang paling utama ialah menyembunyikan zuhud.
Yang paling sulit adalah zuhud dari kepentingan-kepentingan diri.
Perbedaan antara zuhud dan wara’: zuhud berarti meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara’ berarti meninggalkan apa yang dikhawatirkan membahayakan di akhirat.
Hati yang terpaut pada syahwat tidak akan sah baginya zuhud maupun wara’.
Yahya bin Mu‘adz berkata, “Aku heran terhadap tiga hal: seseorang yang berbuat riya dengan amalnya kepada makhluk sejenisnya dan enggan melakukannya untuk Allah; seseorang yang kikir dengan hartanya padahal Rabb-nya meminta pinjaman darinya namun ia tidak meminjamkan sedikit pun; dan seseorang yang lebih suka bersahabat serta berkasih sayang dengan makhluk, padahal Allah mengajaknya bersahabat dan berkasih sayang dengan-Nya.”

Faedah Agung
Sahl bin ‘Abdullah berkata, “Meninggalkan perintah di sisi Allah lebih berat daripada melakukan larangan; sebab Adam dilarang memakan buah pohon, lalu ia memakannya dan Allah menerima tobatnya, sedangkan Iblis diperintah bersujud kepada Adam namun ia tidak bersujud, maka ia tidak ditaubati.”
Aku (penulis) berkata: Ini masalah besar yang memiliki bobot: meninggalkan perintah lebih agung di sisi Allah daripada melakukan larangan (1), dan hal itu ditinjau dari banyak sisi.
Pertama: seperti yang disebutkan Sahl tentang (kisah) Adam dan musuh Allah, Iblis.]

(1) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki sebuah kaidah dalam masalah ini yang beliau uraikan secara panjang lebar dari berbagai sudut; lihat Majmū‘ al-Fatāwā (20/85–158).
النفس بحيث تَهُون عليه نفسُه في الله. وزهدٌ جامعٌ لذلك كله، وهو الزهدُ فيما سوى الله وفي كل ما شَغَلك عنه. وأفضل الزهد إخفاء الزهد. وأصعبه الزهدُ في الحظوظ. والفرق بينه وبين الورع: أن الزهد تركُ ما لا ينفع في الآخرة، والورع ترك ما يخشى ضرره في الآخرة. والقلب المعلَّق بالشهوات لا يصح له زهدٌ ولا ورعٌ. قال يحيى بن معاذ: عجبتُ من ثلاث: رجلٌ يُرائي بعمله مخلوقًا مثلَه ويتركُ أن يعمله لله، ورجلٌ يبخلُ بماله وربُّه يَستقرِضه منه فلا يُقرِضه منه شيئًا، ورجلٌ يَرغب في صحبة المخلوقين ومودَّتهم، والله يدعوه إلى صحبته ومودته. فائدة جليلة قال سهل بن عبد الله: ترك الأمر عند الله أعظم من ارتكاب النهي؛ لأنَّ آدم نُهِي عن أكل الشجرة فأكل منها فتاب عليه، وإبليس أُمِر أن يسجد لآدم فلم يسجد فلم يُتَب عليه. قلت: هذه مسألة عظيمةٌ لها شأنٌ، وهي أن ترك الأوامر أعظم عند الله من ارتكاب المناهي (١)، وذلك من وجوه عديدة: أحدُها: ما ذكره سهلٌ من شأن آدم وعدوِّ الله إبليس.
(١) لشيخ الإسلام ابن تيمية قاعدة في هذه المسألة أطال فيها الكلام من وجوه، انظر "مجموع الفتاوى" (٢٠/ ٨٥ - ١٥٨).

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie