Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

Adapun penghambaan dalam ketetapan berupa cela (dosa) adalah segera bertaubat darinya, berlepas diri, serta berdiri pada maqam permohonan maaf dan kerendahan hati, seraya menyadari bahwa tidak ada yang dapat mengangkat dosa itu kecuali Dia dan tidak ada yang dapat melindungi dari keburukannya selain Dia; bahwa jika dosa itu terus berlanjut, ia akan menjauhkannya dari kedekatan dengan-Nya dan mengusirnya dari pintu-Nya. Ia memandang dosa sebagai bahaya yang tidak dapat dihilangkan kecuali oleh-Nya, bahkan ia menilainya lebih berat daripada bahaya pada jasad. Karena itu ia berlindung kepada keridaan-Nya dari murka-Nya, kepada ampunan-Nya dari hukuman-Nya, dan dengan Dia dari-Nya; ia mencari perlindungan kepada-Nya dari-Nya, dan bersandar dari-Nya kepada-Nya. Ia mengetahui bahwa bila Allah meninggalkannya dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri, di sisinya akan ada dosa-dosa serupa bahkan yang lebih buruk; dan bahwa ia tidak memiliki jalan untuk berhenti (dari dosa) dan bertaubat kecuali dengan taufik dan bantuan-Nya, serta hal itu sepenuhnya berada di tangan-Nya, bukan di tangan hamba. Ia terlalu lemah, tak berdaya, dan kecil untuk memberi taufik kepada dirinya sendiri atau meraih keridaan Tuannya tanpa izin, kehendak, dan pertolongan-Nya. Karena itu ia berlindung kepada-Nya, merintih, hina, fakir, menjatuhkan diri di hadapan-Nya, terhampar di ambang pintu-Nya, tunduk kepada-Nya—makhluk yang paling hina dan paling patah, paling fakir dan paling butuh kepada-Nya, paling berharap kepada-Nya dan paling mencintai-Nya. Tubuhnya sibuk dalam urusannya, sementara hatinya bersujud di hadapan-Nya; ia yakin bahwa tidak ada kebaikan di dalam dirinya, untuk dirinya, dengannya, atau darinya, dan bahwa seluruh kebaikan adalah milik Allah, berada di tangan-Nya, dengan-Nya, dan dari-Nya. Dialah pemilik nikmat, yang memulai pemberian-Nya tanpa ia berhak, dan yang tetap mengalirkannya kepadanya meski ia mendatangkan kejengkelan-Nya dengan berpaling, lalai, dan bermaksiat. Maka bagian Allah adalah pujian, syukur, dan sanjungan, sedangkan bagian hamba adalah cela, kekurangan, dan aib. Dia telah memonopoli segala pujian dan sanjungan, sedangkan hamba memikul cela, kekurangan, dan aib. Segala pujian milik-Nya, seluruh kebaikan di tangan-Nya, segala keutamaan milik-Nya, seluruh sanjungan bagi-Nya, dan seluruh karunia berasal dari-Nya; dari-Nyalah segala kebaikan, sedangkan dari hamba keburukan. Dari-Nya kasih sayang kepada hamba melalui nikmat-Nya, sedangkan dari hamba kebenciannya kepada-Nya melalui maksiat. Dari-Nya nasihat bagi hamba, sedangkan dari hamba penipuan dalam muamalahnya dengan-Nya.

Adapun penghambaan terhadap nikmat bermula dengan mengenalinya dan mengakuinya terlebih dahulu, kemudian berlindung kepada-Nya agar tidak terlintas di dalam hati menisbatkan atau mengaitkannya kepada selain Dia, sekalipun sebab-sebab lahiriah turut berperan; karena Dia-lah yang mengadakan sebab-sebab tersebut.

وعبوديته في قضاء المعايب: المبادرة إلى التوبة منها والتنصُّل والوقوف في مقام الاعتذار والانكسار، عالمًا بأنه لا يرفعُها عنه إلا هو، ولا يَقِيه شرَّها سواه، وأنها إن استمرَّت أبعدتْه من قربه وطَردتْه من بابه، فيراها من الضُّرِّ الذي لا يكشفه غيره، حتى إنه ليراها أعظم من ضر البدن؛ فهو عائذٌ برضاه من سخطه، وبعفوه من عقوبته، وبه منه، مستجيرٌ به منه، وملتجئٌ منه إليه، يعلم أنه إذا تخلى عنه وخلَّى بينه وبين نفسه فعنده أمثالُها وشرٌّ منها، وأنه لا سبيلَ له إلى الإقلاع والتوبة إلَّا بتوفيقه وإعانته، وأن ذلك بيده سبحانه لا بيد العبد؛ فهو أعجز وأضعف وأقل من أن يوفق نفسه أو يأتي بمرضاة سيده بدون إذنه ومشيئته وإعانته؛ فهو ملتجئٌ إليه، متضرِّعٌ، ذليلٌ، مسكين، مُلْقٍ نفسَه بين يديه، طريحٌ ببابه، مستخذٍ له، أذلُّ شيءٍ وأكسره له، وأفقره وأحوجه إليه، وأرغبُهُ فيه، وأحبه له، بدنه متصرفٌ في أشغاله، وقلبه ساجدٌ بين يديه، يعلم يقينًا أنه لا خير فيه ولا له ولا به ولا منه، وأن الخير كله لله وفي يديه وبه ومنه؛ فهو وليُّ نعمته، ومبتدئه بها من غير استحقاق، ومُجرِيها عليه مع تمقُّته إليه بإعراضه وغفلته ومعصيته؛ فحظُّه سبحانه الحمد والشكر والثناء، وحظُّ العبد الذمُّ والنقصُ والعيب، قد استأثر بالمحاميد والمدح والثناء، وولي العبدُ الملامةَ والنقائص والعيوب؛ فالحمدُ كلُّه له، والخير كلُّه في يديه، والفضلُ كلُّه له، والثناءُ كلُّه له، والمنةُ كلُّها له؛ فمنه الإحسانُ ومن العبد الإساءةُ، ومنه التودُّدُ إلى العبد بنعمه ومن العبد التبغُّضُ إليه بمعاصيه، ومنه النُّصح لعبده ومن العبد الغشُّ له في معاملته. وأمَّا عبودية النِّعم فمعرفتها والاعتراف بها أولًا، ثم العياذُ به أن يقع في قلبه نسبتُها وإضافتُها إلى سواه وإن كان سببًا من الأسباب؛ فهو مسبّبه

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie