[Maka seluruh kerusakan berpadu pada mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan, sedangkan seluruh kebaikan terhimpun pada mengikuti petunjuk (Allah) dan bersiap-siap untuk pertemuan (dengan-Nya). Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.
• Sungguh mengherankan orang yang, ketika sebuah hajat menimpanya, mengarahkan keinginan dan tekadnya kepada Allah agar Dia menunaikannya, namun ia tidak segera memohon agar hatinya dihidupkan dari kematian karena kebodohan dan berpaling, serta agar ia disembuhkan dari penyakit syahwat dan syubhat! Akan tetapi, ketika hati sudah mati, ia tidak lagi merasakan maksiatnya.
Pasal
Bagi seorang hamba, Allah Mahasuci menetapkan tiga perkara: perintah yang Dia bebankan kepadanya, ketetapan yang Dia timpakan atasnya, dan nikmat yang Dia limpahkan kepadanya; ia tidak pernah lepas dari ketiganya. Ketetapan itu ada dua macam: musibah dan cela (dosa). Pada seluruh tingkatan ini, Allah menuntut ibadah darinya.
Makhluk yang paling Dia cintai adalah orang yang mengenal penghambaan dirinya pada setiap tingkatan ini lalu menunaikannya dengan sempurna; dialah makhluk yang paling dekat kepada-Nya. Sedangkan yang paling jauh dari-Nya adalah orang yang tidak mengenal penghambaan dirinya pada tingkatan-tingkatan tersebut, sehingga ia menelantarkannya, baik secara ilmu maupun amal.
Penghambaan terhadap perintah adalah melaksanakannya dengan ikhlas, meneladani Rasulullah ﷺ.
Penghambaan terhadap larangan adalah menjauhinya karena takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, serta mencintai-Nya.
Adapun penghambaan dalam ketetapan berupa musibah adalah bersabar menghadapinya; kemudian ridha terhadapnya—dan ini lebih tinggi daripada sabar; lalu bersyukur atasnya—dan ini lebih tinggi daripada ridha. Hal ini hanya terwujud apabila cinta kepada Allah telah berakar kuat di dalam hati, dan ia menyadari baiknya pilihan Allah baginya, kebaikan-Nya, kelembutan-Nya, serta ihsan-Nya kepadanya melalui musibah itu, meskipun ia membenci musibah tersebut.]