[keuniversalan pemeliharaan dan pengaturan-Nya sebagai Rabb, hikmah-Nya, kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, keterkaitan nama-nama serta sifat-sifat itu dengan objeknya, dan tuntutan konsekuensi serta pengaruh yang timbul darinya. Semua itu merupakan salah satu petunjuk terbesar atas ketuhanan, kerajaan, dan keilahian-Nya, atas cinta dan murka-Nya, serta atas pahala dan siksa-Nya.
Allah-lah yang lebih mengetahui.
• Para pemilik hajat berdiri di gerbang Sang Raja, memohon agar keperluan mereka dipenuhi; sedangkan para wali-Nya yang mencintai-Nya—mereka yang menjadikan Dia satu-satunya perhatian dan tujuan—duduk di majelis-Nya sebagai sahabat istimewa-Nya. Apabila Dia berkehendak menunaikan hajat salah seorang di antara para pendatang itu, Dia memberi izin kepada sebagian sahabat khusus-Nya untuk memberi syafaat kepadanya—sebagai rahmat bagi si pemohon dan penghormatan bagi sang pemberi syafaat—sementara semua orang lain terusir dari gerbang, dicambuk oleh cemeti jarak.
Pasal
Sepuluh hal yang sia-sia, tidak membawa manfaat: (1) ilmu yang tidak diamalkan; (2) amal yang tanpa keikhlasan dan tanpa mengikuti tuntunan; (3) harta yang tidak dinafkahkan, sehingga pengumpulnya tidak menikmatinya di dunia dan tidak pula mengirimkannya sebagai bekal ke akhirat; (4) hati yang kosong dari cinta kepada Allah, rindu kepada-Nya, dan keakraban dengan-Nya; (5) tubuh yang disia-siakan dari ketaatan dan pengabdian; (6) cinta yang tidak diikat dengan keridaan sang tercinta dan kepatuhan kepada perintah-Nya; (7) waktu yang terbuang tanpa menebus kelalaian ataupun memanfaatkan kesempatan berbuat baik dan mendekatkan diri; (8) pikiran yang berkeliaran pada hal-hal yang tidak berguna; (9) pelayanan kepada orang yang pelayananmu kepadanya tidak mendekatkanmu kepada Allah dan tidak pula memperbaiki duniamu; dan (10) rasa takut serta harapan yang engkau tujukan kepada makhluk yang ubun-ubunnya berada di tangan Allah, terbelenggu dalam genggaman-Nya, yang tidak berkuasa atas dirinya untuk menolak mudarat, mendatangkan manfaat, mematikan, menghidupkan, ataupun membangkitkan.
Di antara semua kesia-siaan itu, yang paling besar ada dua—keduanya adalah akar segala kesia-siaan: menyia-nyiakan hati dan menyia-nyiakan waktu. Hati disia-siakan karena lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, sedangkan waktu disia-siakan karena panjang angan-angan.]