[bermacam-macam; dan pengganti yang paling agung ialah: keakraban dengan Allah, kecintaan kepada-Nya, ketenteraman hati bersama-Nya, kekuatannya, semangatnya, kegembiraannya, dan kerelaannya terhadap Rabb-nya Tabaraka wa Ta‘ala.
• Orang paling bodoh adalah orang yang tersesat di penghujung perjalanannya padahal ia hampir memasuki rumah.
• Akal yang diberi taufik memandang bahwa apa yang dibawa Rasul ﷺ adalah kebenaran yang sejalan dengan akal dan hikmah, sedangkan akal yang diselimuti penelantaran melihat pertentangan antara akal dan wahyu serta antara hikmah dan syariat.
• Sarana terdekat menuju Allah ialah berpegang teguh pada Sunnah dan menetap bersamanya—lahir maupun batin—, senantiasa merasa butuh kepada Allah, dan mengikhlaskan wajah-Nya semata dalam ucapan dan perbuatan. Tidak seorang pun sampai kepada Allah kecuali melalui tiga hal ini, dan tidak seorang pun terputus dari-Nya kecuali karena terputus darinya atau dari salah satunya.
• Pondasi yang menjadi dasar kebahagiaan seorang hamba ada tiga, dan masing-masing memiliki lawan; barang siapa kehilangan suatu pondasi, ia pasti memperoleh lawannya: tauhid—lawan-nya syirik; Sunnah—lawan-nya bid’ah; ketaatan—lawan-nya maksiat. Ketiga pondasi ini mempunyai satu lawan bersama, yaitu: kosongnya hati dari rasa harap kepada Allah dan apa yang ada di sisi-Nya serta dari rasa takut kepada-Nya dan apa yang ada di sisi-Nya.
Kaidah agung:
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat, agar jelas pula jalan orang-orang yang berdosa.” (Al-An‘ām: 55)
Dan Dia berfirman: “Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas petunjuk baginya, lalu mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa menempuh jalan yang ia pilih…” (An-Nisā’: 115)
Allah Ta‘ala telah menjelaskan dalam Kitab-Nya jalan orang-orang beriman secara terperinci dan jalan orang-orang berdosa.]