Ia adalah hakikat yang tersusun dari: mengenal secara ilmu apa yang dibawa Rasul ﷺ, membenarkannya dengan keyakinan, mengikrarkannya dengan lisan, tunduk kepadanya dengan cinta dan kerendahan, mengamalkannya lahir dan batin, serta menegakkannya dan mengajak kepadanya sesuai kemampuan.
Kesempurnaannya terletak pada: mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, menahan diri karena Allah, dan menjadikan Allah semata-mata Tuhan dan sesembahan.
Jalan menuju hakikat itu ialah: memurnikan pengikutan kepada Rasul lahir-batin, serta memejamkan mata hati agar tidak menoleh kepada selain Allah dan Rasul-Nya.
Dan taufik datangnya dari Allah.
Siapa yang menyibukkan diri dengan Allah, bukan dengan dirinya, Allah akan mencukupinya dari kerepotan dirinya; siapa yang menyibukkan diri dengan Allah, bukan dengan manusia, Allah akan mencukupinya dari kerepotan manusia; siapa yang sibuk dengan dirinya dan lalai dari Allah, Allah menyerahkannya kepada dirinya; dan siapa yang sibuk dengan manusia dan lalai dari Allah, Allah menyerahkannya kepada mereka.
Faedah agung:
Kesulitan meninggalkan hal-hal yang lazim dan kebiasaan hanya dirasakan oleh orang yang meninggalkannya bukan karena Allah; adapun orang yang meninggalkannya dengan jujur dan ikhlas karena Allah, ia tidak merasakan kesulitan itu kecuali pada saat pertama saja—sebagai ujian apakah ia benar-benar jujur atau berdusta. Jika ia bersabar sejenak atas kesulitan itu, kesulitan tersebut pun berubah menjadi kenikmatan.
Ibnu Sîrîn berkata, “Aku mendengar Syuraiḥ bersumpah demi Allah: tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah lalu ia merasa kehilangan.”
Ucapan mereka, “Siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik,” adalah benar, dan ganti itu