Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

pendapat sebagian dari mereka. Mereka itulah—sebagaimana perkataan ‘Umar bin al-Khaṭṭāb dan Imam Aḥmad—“berselisih di dalam Kitab, menyelisihi Kitab, namun sepakat untuk meninggalkan Kitab.”

Kalangan lain berpendapat bahwa iman adalah beribadah kepada Allah menurut selera rasa dan pengalaman batin mereka serta apa saja yang diingini hawa nafsu mereka, tanpa terikat oleh apa yang dibawa Rasul.

Kelompok berikutnya menyangka iman hanyalah apa yang mereka dapati pada bapak-bapak dan leluhur mereka, apa pun bentuknya; bahkan iman mereka dibangun di atas dua premis: pertama, bahwa ini adalah ucapan para leluhur dan orang tua kami; kedua, bahwa apa yang diucapkan mereka pasti benar.

Ada pula yang memaknai iman sebagai budi pekerti mulia, muamalah yang baik, wajah yang ramah, berprasangka baik kepada setiap orang, dan membiarkan manusia dalam kelengahan mereka.

Yang lain lagi menganggap iman sebagai melepaskan diri dari dunia dan segala keterikatannya, mengosongkan hati darinya dan zuhud terhadapnya; maka apabila mereka melihat seseorang seperti itu, mereka menobatkannya sebagai tokoh utama orang beriman, walaupun orang itu sama sekali terlepas dari iman baik secara ilmu maupun amal.

Lebih tinggi lagi, menurut sebagian, iman hanyalah pengetahuan semata walau tidak disertai amal.

Semua orang tersebut tidak mengenal hakikat iman, tidak menegakkannya, dan iman pun tidak tegak pada diri mereka.

Mereka beraneka ragam: ada yang menjadikan apa yang justru menafikan iman sebagai iman; ada yang menjadikan sesuatu yang sama sekali tidak terhitung dalam iman sebagai iman; ada yang menjadikannya sebatas syarat iman padahal tidak memadai untuk mewujudkannya; ada yang mensyaratkan bagi keberadaannya sesuatu yang menegasinya dan menentangnya; dan ada pula yang mensyaratkan perkara yang sama sekali bukan bagian dari iman.

Padahal iman berada di balik semua itu.

بعضُهم قول بعض، الذين هم كما قال عمرُ بن الخطاب والإمام أحمدُ: مختلفون في الكتاب، مخالفون للكتاب، متَّفقون على مفارقةِ الكتاب. وآخرون عندهم الإيمانُ عبادةُ الله بحُكْمِ أذواقِهم ومواجيدِهم وما تهواه نفوسهم من غير تقييد بما جاء به الرسولُ. وآخرون الإيمان عندهم ما وجدوا عليه آباءهم وأسلافهم بحكم الاتفاق كائنًا ما كان، بل إيمانهم مبنيٌّ على مقدِّمتين: إحداهما: أن هذا قولُ أسلافنا وآبائنا. والثانية: أن ما قالوه فهو الحقُّ. وآخرون عندهم الإيمان مكارمُ الأخلاق وحسنُ المعاملة وطلاقةُ الوجه وإحسانُ الظنِّ بكل أحدٍ وتخليةُ الناسِ وغفلاتِهم. وآخرون عندهم الإيمان التجرُّدُ من الدُّنيا وعلائقها وتفريغ القلب منها والزُّهد فيها؛ فإذا رأوا رجلًا هكذا جعلوه من سادات أهل الإيمان، وإن كان منسلخًا من الإيمان علمًا وعملًا. وأعلى من هؤلاء من جعل الإيمانَ هو مجرد العلم وإن لم يُقارِنْه عملٌ. وكلُّ هؤلاء لم يَعرِفوا حقيقةَ الإيمان ولا قاموا به ولا قام بهم. وهم أنواعٌ: منهم من جعل الإيمانَ ما يضادُّ الإيمانَ، ومنهم من جعل الإيمان ما لا يُعتبرُ في الإيمان، ومنهم من جعله ما هو شرطٌ فيه ولا يكفي في حصوله، ومنهم من اشترط في ثبوته ما يُناقِضُه ويُضادُّه، ومنهم من اشترط فيه ما ليس منه بوجه. والإيمان وراء ذلك كلِّه.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie