Kedua, bahwa kekuasaan (Allah) tidak berkaitan dengan hal itu!
Ketiga, bahwa perkara itu sama sekali tidak mengandung faedah! Sesungguhnya (1) hikmah justru menuntut agar jenis manusia ini tetap langgeng, silih berganti terus-menerus; setiap kali satu generasi mati, generasi lain menggantikannya. Adapun mematikan seluruh jenis manusia lalu menghidupkannya kembali setelah itu, tidak ada hikmah di dalamnya!
Karena itulah, dalil-dalil tentang hari kebangkitan di dalam Al-Qur’an dibangun di atas tiga landasan:
Pertama, penegasan sempurnanya ilmu Rabb Yang Mahasuci. Allah berfirman sebagai jawaban atas ucapan, “Siapakah yang akan menghidupkan tulang-belulang itu ketika telah hancur menjadi debu?” (Yâ Sîn: 78): “Katakanlah, yang akan menghidupkannya ialah Dia yang telah menciptakannya pertama kali; Dia Maha Mengetahui setiap makhluk.” (Yâ Sîn: 79). Dia juga berfirman: “Sesungguhnya Hari Kiamat pasti datang, maka maafkanlah dengan pemaafan yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah Sang Pencipta, Yang Maha Mengetahui.” (Al-Hijr: 85–86). Dan firman-Nya: “Sungguh Kami mengetahui apa yang diambil bumi dari (tubuh) mereka.” (Qâf: 4).
Kedua, penegasan sempurnanya kekuasaan-Nya; seperti firman-Nya: “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi kuasa pula untuk menciptakan yang semisal mereka?” (Yâ Sîn: 81); firman-Nya: “Bahkan Kami kuasa menyusun kembali ujung-ujung jarinya.” (Al-Qiyâmah: 4); dan firman-Nya: “Yang demikian itu karena Allah, Dialah Yang Mahabenar; Dia menghidupkan orang-orang mati; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Hajj: 6).
Allah ‑Subhânahû wa Ta‘âlâ- juga menggabungkan kedua perkara tersebut, sebagaimana firman-Nya: “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi kuasa pula menciptakan yang semisal mereka? Benar, dan Dialah Sang Pencipta, Yang Maha Mengetahui.” (Yâ Sîn: 81).
Ketiga, sempurnanya hikmah-Nya; seperti firman-Nya: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya…”