maka setan pun menjerumuskannya lantaran kebodohannya dan mengkafirkannya pula karena kebodohannya.
Ia adalah imam bagi setiap ahli ibadah yang bodoh: ia kafir tanpa menyadarinya; sedangkan yang satu lagi adalah imam bagi setiap orang berilmu yang bejat, yang memilih dunia daripada akhirat.
Allah Yang Mahasuci telah menjadikan kerelaan seorang hamba terhadap dunia, ketenangannya di dalamnya, serta kelalaiannya dari mengenal ayat-ayat-Nya, mentadabburinya, dan mengamalkannya, sebagai sebab kesengsaraan dan kebinasaannya.
Dua hal ini—yakni rela terhadap dunia dan lalai terhadap ayat-ayat Rabb—tidak akan bersatu kecuali di dalam hati orang yang tidak beriman kepada hari kebangkitan dan tidak mengharap pertemuan dengan Rabb semesta alam. Seandainya kakinya mantap di atas iman kepada hari kebangkitan, niscaya ia tidak akan rela dengan dunia, tidak akan tenang dengannya, dan tidak akan berpaling dari ayat-ayat Allah.
Apabila engkau memperhatikan keadaan manusia, engkau akan mendapati bahwa golongan inilah yang paling mendominasi mereka—merekalah para pembangun dunia—sedangkan orang yang berlawanan dengan mereka jumlahnya sangat sedikit; ia adalah orang yang paling asing di tengah-tengah mereka. Urusannya berbeda dengan urusan mereka; ilmunya berbeda dengan ilmu mereka; kehendaknya berbeda dengan kehendak mereka; jalannya berbeda dengan jalan mereka. Ia berada di satu lembah, mereka di lembah yang lain.
Allah Ta‘ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami, yang rela dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat Kami, merekalah tempat kembali mereka Neraka, disebabkan apa yang selalu mereka usahakan.” (Yunus: 7-8). Setelah itu Allah menyebut sifat kebalikan dari mereka, keadaan akhir dan kesudahan mereka, seraya berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Rabb mereka akan memberi petunjuk kepada mereka karena iman mereka; mengalirlah sungai-sungai di bawah mereka di dalam Surga penuh kenikmatan.” (Yunus: 9).
Keimanan mereka akan pertemuan dengan Allah itulah yang menumbuhkan pada diri mereka ketidakrelaan terhadap dunia, ketidaktenangan dengannya, dan senantiasa mengingat ayat-ayat-Nya.
Demikianlah warisan iman kepada hari kebangkitan, sementara yang tadi adalah warisan dari tiadanya iman kepadanya dan kelalaian darinya.