Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[Karena ia tidak diangkat dengan ilmu itu, ilmu tersebut justru berubah menjadi petaka baginya; seandainya ia bukan seorang alim, niscaya keadaannya lebih baik dan azabnya lebih ringan.

Keenam: Allah—Mahasuci Dia—memberitakan kehinaan ambisinya; ia memilih yang paling rendah dan hina ketimbang yang paling mulia dan tinggi.

Ketujuh: pilihannya terhadap yang rendah bukan sekadar lintasan hati atau bisikan sesaat, tetapi karena ia melekat (1) pada bumi dan condong sepenuhnya kepada apa yang ada di dalamnya. Asal kata ikhlād berarti menetap terus-menerus, seakan-akan dikatakan, “ia menetap dalam kecenderungan kepada bumi.” Dari makna ini orang Arab berkata, “Si Fulan akhlada di suatu tempat,” yakni ia terus menetap di sana. Malik bin Nuwayrah (2) berkata:
بأَبْناءِ حَيٍّ مِنْ قَبائِلِ مالِكٍ … وعمرو بن يربوعٍ أَقاموا فأَخْلَدوا
“Bersama putra-putra suatu kabilah dari Bani Mālik … dan ‘Amr bin Yarbu‘; mereka tinggal lalu menetap.”
Ia mengekspresikan kecenderungannya kepada dunia dengan istilah “melekat pada bumi”, karena dunia adalah bumi beserta apa yang ada di atasnya dan segala perhiasan serta kenikmatan yang dikeluarkan darinya.

Kedelapan: ia berpaling dari petunjuknya dan mengikuti hawa nafsunya, menjadikan hawa nafsu sebagai imam yang diteladani dan diikuti.

Kesembilan: ia diumpamakan dengan anjing—hewan yang paling hina ambisinya, paling rendah jiwanya, paling kikir, dan paling rakus; itulah sebabnya ia disebut “anjing”.

Kesepuluh: Allah menyamakan terengah-engahnya mengejar dunia, ketidaksabarannya berpisah darinya, kegelisahannya ketika kehilangannya, dan kerakusannya meraihnya, dengan terengah-engahnya anjing baik ketika dibiarkan maupun ketika dihalau. Begitulah dirinya: jika dibiarkan, ia tetap terengah-engah mengejar dunia; bila dinasihati dan dicegah, ia pun tetap demikian. Rasa terengah-engah itu tak pernah meninggalkannya dalam keadaan apa pun, sebagaimana pantingnya anjing.]

(1) Dalam naskah aslinya: "ولربما". (2) Dari sebuah puisinya yang terdapat dalam Al-Aṣma‘iyyāt (hal. 193).
لأنه لم يُرفَعْ به، فصار وبالًا عليه، فلو لم يكن عالمًا كان خيرًا له وأخفَّ لعذابه. وسادسُها: أنَّه سبحانه أخبر عن خِسَّةِ همَّته وأنَّه اختار الأسفل الأدنى على الأشرف الأعلى. وسابعُها: أنَّ اختيارَه للأدنى لم يكن عن خاطرٍ وحديث نفس، ولكنَّهُ كان عن إخلادٍ إلى الأرض، وميل (١) بكلِّيَّتِهِ إلى ما هناك، وأصلُ الإخلاد اللزومُ على الدَّوام، كأنَّه قيل: لزِم الميلَ إلى الأرض، ومن هذا يقالُ: أخلد فلانٌ بالمكان: إذا لزم الإقامةَ به، قال مالك بن نُوَيْرة (٢). بأبْناء حيٍّ مِنْ قَبائلِ مالِكٍ … وعمرو بن يربوعٍ أقاموا فأخْلَدوا وعبَّرَ عن ميله إلى الدنيا بإخلادِهِ إلى الأرض؛ لأنَّ الدُّنيا هي الأرضُ وما فيها وما يُسْتَخْرَجُ منها من الزينةِ والمَتاع. وثامنُها: أنَّه رَغِبَ عن هداهُ، واتَّبع هواهُ، فجعل هواهُ إمامًا له يقتدي به ويتَبِعُهُ. وتاسعُها: أنَّه شبَّهَهُ بالكلب الذي هو أخسُّ الحيوانات هِمَّةً، وأسقطُها نفسًا، وأبخلُها وأشدُّها كَلَبًا، ولهذا سُمِّي كلبًا. وعاشرُها: أنه شبَّه لَهَثَهُ على الدُّنيا، وعدمَ صبرِه عنها، وجَزَعَهُ لفقدها، وحرصه على تحصيلها؛ بلَهَثِ الكلب في حالتي تركه والحمل عليه بالطَّرْدِ، وهكذا هذا: إن تُرِكَ فهو لَهْثَانُ على الدُّنيا، وإن وُعِظ وزُجِر فهو كذلك؛ فاللَّهَثُ لا يُفارِقُهُ في كلِّ حال كَلَهَثِ الكلب.
(١) في الأصل: "ولربما". (٢) من قصيدة له في الأصمعيات (ص ١٩٣).

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie