Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

dan bidah; atau Allah membalikkan dirinya, sehingga ia memandang bidah sebagai sunah dan sunah sebagai bidah.
Inilah penyakit para ulama ketika mereka lebih mengutamakan dunia serta mengejar kedudukan dan syahwat.
Ayat-ayat ini turun tentang mereka, hingga firman-Nya: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu ia melepaskan diri darinya; maka setan mengikutinya sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami mengangkatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi ia condong kepada bumi dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaannya seperti anjing: jika engkau menghalaunya, ia menjulurkan lidah, dan jika engkau membiarkannya, ia tetap menjulurkan lidahnya.” (al-A‘rāf: 175–176).
Demikianlah perumpamaan seorang ulama buruk yang beramal bertentangan dengan ilmunya.
Renungkanlah celaan yang terkandung dalam ayat ini, dilihat dari beberapa sisi:
Pertama: ia tersesat setelah berilmu; ia memilih kekafiran daripada iman dengan sengaja, bukan karena tidak tahu.
Kedua: ia meninggalkan iman secara total, bagaikan orang yang takkan kembali lagi; ia menanggalkan seluruh ayat itu sebagaimana ular menanggalkan kulitnya. Seandainya masih tersisa sedikit saja padanya, niscaya ia tidak akan menanggalkannya.
Ketiga: setan berhasil menyusul dan menangkapnya hingga menguasai dan menerkamnya; karena itu Allah berfirman: “maka setan mengikutinya (fa-atba‘ahu),” bukan “mengikutinya (taba‘ahu)”; sebab fa-atba‘ahu mengandung makna menyusul dan menangkap, lebih tegas baik lafaz maupun maknanya.
Keempat: ia menyimpang setelah mendapat petunjuk. Kesesatan (ghayy) adalah penyimpangan dalam ilmu dan tujuan, lebih khusus menyangkut rusaknya niat dan amal; sedangkan kesesatan (ḍalāl) lebih khusus menyangkut rusaknya ilmu dan keyakinan. Jika salah satunya disebut sendiri, yang lain sudah tercakup; tetapi bila keduanya disebut bersama, maknanya berbeda sebagaimana dijelaskan.
Kelima: Allah—Mahasuci Dia—tidak berkehendak mengangkatnya dengan ilmu itu, maka ilmu tersebut justru menjadi sebab kebinasaannya;

والبدعة، أو يُنْكِسُهُ؛ فيرى البدعة سنةً والسنة بدعةً. فهذه آفةُ العلماء إذا آثروا الدُّنيا واتَّبعوا الرئاسات والشَّهوات. وهذه الآياتُ فيهم إلى قوله: ﴿وَاتْلُ عَلَيهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَينَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوينَ (١٧٥) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ﴾ [الأعراف: ١٧٥ - ١٧٦]. فهذا مَثَلُ عالمِ السوء الذي يعمل بخلاف علمه. وتأمَّلْ ما تضمَّنته هذه الآية من ذمِّه، وذلك من وجوهٍ: أحدُها: أنه ضَلَّ بعد العلم، واختار الكفرَ على الإيمان عمدًا لا جهلًا. وثانيها: أنه فارق الإيمان مفارقةَ من لا يعود إليه أبدًا؛ فإنه انسلخ من الآيات بالجملة كما تنسلخُ الحيَّةُ من قِشْرِها، ولو بقي معه منها شيءٌ لمَ ينسلِخْ منها. وثالثُها: أنَّ الشيطان أدْرَكهُ ولحقهُ بحيثُ ظَفِرَ به وافترسَهُ، ولهذا قال تعالى: ﴿فَأَتْبَعَهُ الشَّيطَانُ﴾، ولم يقلْ: تبعهُ؛ فإنَّ في معنى ﴿فَأَتْبَعَهُ﴾ أدركه ولَحِقَه، وهو أبلغ من (تبِعَهُ) لفظًا ومعنى. رابعُها: أنَّه غَوَى بعد الرُّشد، والغيُّ: الضَّلالُ في العلم والقصد، وهو أخصُّ بفساد القصد والعمل؛ كما أنَّ الضَّلال أخصُّ بفساد العلم والاعتقاد؛ فإذا أُفرِدَ أحدُهما دخلَ فيه الآخرُ، وإن اقترنا فالفرقُ ما ذُكِر. وخامسُها: أنَّه سبحانه لم يشأ أن يرفعهُ بالعلم، فكان سبب هلاكه؛

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie