dialah yang menetapkan sebab sekaligus akibatnya, dan Dia Mahaadil dalam ketetapan itu, dan ketetapan tersebut pasti baik bagi seorang mukmin; sebagaimana sabda ﷺ: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak menetapkan suatu ketetapan pun bagi seorang mukmin melainkan pasti baik baginya, dan hal itu tidak berlaku kecuali bagi seorang mukmin.”(1)
Al-ʿAllāmah Ibn Al-Qayyim berkata, “Aku bertanya kepada guru kami(2): ‘Apakah ketetapan berupa perbuatan dosa juga termasuk?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dengan syaratnya.’”
Dengan satu kata “dengan syaratnya” beliau telah merangkum seluruh konsekuensi dosa yang dicintai Allah, seperti tobat, keterpekur, penyesalan, ketundukan, kerendahan diri, tangisan, dan lain-lain.
Faedah
Keinginan yang sempurna terhadap akhirat tidak akan terwujud kecuali dengan sikap zuhud terhadap dunia.
Dan sikap zuhud terhadap dunia tidak akan lurus kecuali setelah dua renungan yang benar:
- Renungan terhadap dunia—betapa cepat lenyap dan sirnanya, kefanaan serta kerendahannya, betapa pedihnya persaingan dan kerakusan terhadapnya, berbagai kepahitan, kesempitan, dan kesulitan yang menyertainya; ujungnya hanyalah hilang dan terputus, menimbulkan penyesalan dan kesedihan. Si pencarinya tidak pernah lepas dari kegelisahan sebelum mendapatkannya, kegelisahan ketika menikmatinya, serta gundah dan duka setelah kehilangannya. Inilah renungan pertama.
- Renungan kedua tertuju pada akhirat—kepastiannya untuk datang, kedatangannya yang tak terelakkan, kekekalan serta kelanggengannya, kemuliaan aneka kebaikan dan kebahagiaan di dalamnya, serta perbandingan antara itu dan apa yang ada di sini; ia sebagaimana firman Allah Taʿālā: “Sedang akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-Aʿlā: 17)