—padahal apa yang ia sukai itu justru merupakan keburukan baginya, baik dalam kehidupan dunianya maupun di akhirat.
Demikian pula, seseorang boleh jadi membenci seorang istri karena suatu sifat yang ada padanya, padahal dengan menahannya terdapat banyak kebaikan yang tidak ia ketahui; dan ia boleh jadi mencintai seorang istri karena suatu sifat yang ada padanya, padahal dengan menahannya terdapat banyak keburukan yang tidak ia ketahui.
Manusia—sebagaimana digambarkan oleh Penciptanya—benar-benar zalim lagi bodoh; maka tidak selayaknya ia menjadikan kecenderungan, kecintaan, keengganan, dan kebenciannya sebagai tolok ukur bagi apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya. Tolok ukurnya ialah apa yang Allah pilihkan baginya melalui perintah dan larangan-Nya. Maka hal yang paling bermanfaat baginya secara mutlak adalah ketaatan lahir batin kepada Rabb-nya, sedangkan hal yang paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan lahir batin kepada-Nya.
Apabila ia menegakkan ketaatan dan penghambaan kepada-Nya dengan tulus, maka segala sesuatu yang menimpanya—meski ia membencinya—menjadi kebaikan baginya. Sebaliknya, ketika ia meninggalkan ketaatan dan penghambaan kepada-Nya, maka segala sesuatu yang ia sukai justru menjadi keburukan baginya.
Barang siapa pengetahuan tentang Rabb-nya telah mantap serta ia memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia akan meyakini bahwa berbagai hal yang tidak ia sukai dan berbagai cobaan yang menimpanya mengandung beragam maslahat dan manfaat yang tak terjangkau oleh ilmu maupun pikirannya; bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam sesuatu yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan yang ada dalam sesuatu yang ia cintai. Umumnya kemaslahatan jiwa terletak pada hal-hal yang ia benci, sebagaimana umumnya mudarat dan sebab kebinasaannya terletak pada hal-hal yang ia sukai.
Perhatikanlah seorang penanam kebun yang mahir: ia menanam sebuah kebun lalu merawatnya dengan penyiraman dan perbaikan hingga pepohonannya berbuah. Setelah itu ia datang memisahkan cabang-cabangnya dan memotong ranting-rantingnya, karena ia tahu bahwa bila pohon itu dibiarkan begitu saja, buahnya tidak akan menjadi baik; ia pun menyambungnya dengan pohon yang manis buahnya. Ketika sambungan itu telah menyatu dan berbaur serta pohon itu berbuah, ia kembali memangkas dan memotong ranting-ranting lemah yang hanya menguras kekuatannya, menimpakan padanya rasa sakit karena dipotong dengan besi demi kemaslahatannya dan kesempurnaannya, agar buahnya menjadi baik