cahaya dan kehidupan; sebagaimana Dia menggabungkan bagi orang yang berpaling dari Kitab-Nya antara kematian dan kegelapan.
Ibn ‘Abbâs—dan seluruh mufassir—berkata: “(Ayat ini) menceritakan tentang seseorang yang dahulu kafir lagi sesat, lalu Kami beri ia petunjuk.”
Firman-Nya: “Dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah-tengah manusia” mencakup beberapa makna.
Pertama: ia berjalan di tengah manusia dengan cahaya, sementara mereka berada dalam kegelapan; perumpamaannya dan perumpamaan mereka seperti suatu kaum yang malam gelap gulita menimpa mereka sehingga mereka tersesat dan tidak menemukan jalan, sedangkan seorang lain bersama-nya ada cahaya yang dipakainya untuk menempuh jalan itu, ia melihat jalan dan melihat apa saja yang mesti diwaspadai di dalamnya.
Kedua: ia berjalan di antara mereka dengan cahayanya, maka mereka menimba cahaya darinya karena mereka membutuhkan cahaya itu.
Ketiga: ia berjalan dengan cahayanya pada Hari Kiamat di atas shirath, ketika para penganut syirik dan kemunafikan tertinggal dalam kegelapan syirik dan nifak mereka.
Firman-Nya: “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi (jarak) antara seseorang dan hatinya.”
Pendapat masyhur mengenai ayat ini adalah: Dia menghalangi antara seorang mukmin dan kekufuran, antara seorang kafir dan keimanan; Dia menghalangi antara ahli ketaatan dan maksiat, serta antara ahli maksiat dan ketaatan. Ini adalah pendapat Ibn ‘Abbâs dan mayoritas mufassir.
Ada pendapat lain: maknanya adalah bahwa Dia Mahadekat dengan hati hamba, tiada sesuatu pun tersembunyi dari-Nya; Dia berada di antara seseorang dan hatinya. Pendapat ini disebutkan oleh al-Wâhidî dari Qatâdah. Dan tampaknya inilah yang lebih cocok dengan konteks, karena asal sebuah jawaban (istijâbah) terletak pada hati; maka tidak bermanfaat jawaban dengan raga tanpa hati, sebab Allah—Maha Suci Dia—berada antara hamba dan hatinya; Dia mengetahui apakah hatinya benar-benar menanggapi-Nya ataukah menampakkan kebalikannya.
Menurut pendapat pertama, sisi keterkaitan (dengan konteks) adalah bahwa jika kalian enggan menanggapi