Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[…melalui tawakal dan ubudiyah anggota tubuh, dengan sebab yang diniatkan sebagai pendekatan diri kepada-Nya.

Dan yang merealisasikan tawakal ialah menunaikan sebab-sebab yang diperintahkan: siapa yang menelantarkannya maka tawakalnya tidak sah; sebagaimana menempuh sebab-sebab yang mengantarkan pada terwujudnya kebaikan merealisasikan harapannya; maka siapa yang tidak menempuhnya, harapannya hanyalah angan-angan. Demikian pula, siapa yang meninggalkannya, tawakalnya berubah menjadi kelemahan, dan kelemahannya ia namakan tawakal.

Rahasia sekaligus hakikat tawakal adalah bersandarnya hati hanya kepada Allah: melakukan sebab tidaklah membahayakannya selama hati bersih dari ketergantungan dan sandaran kepada sebab itu; sebagaimana ucapan “aku bertawakal kepada Allah” tidak berguna bila hati bersandar kepada selain-Nya, memercayainya, dan bergantung kepadanya. Tawakal lisan adalah satu hal, tawakal hati hal lain; sebagaimana tobat di lisan dengan hati yang masih bersikeras pada dosa adalah satu hal, sedang tobat hati walau lisan tidak mengucapkannya adalah hal lain. Ucapan seorang hamba, “aku bertawakal kepada Allah” sementara hatinya bergantung kepada selain-Nya, sama seperti ucapannya, “aku bertobat kepada Allah” padahal ia tetap melakukan maksiat dan bersikeras di atasnya.

Faedah
Orang bodoh mengadukan Allah kepada manusia; ini adalah puncak kebodohan tentang siapa yang diadukan dan kepada siapa ia mengadu. Seandainya ia mengenal Rabb-nya tentu ia tidak akan mengadukan-Nya, dan seandainya ia mengenal manusia tentu ia tidak akan mengadu kepada mereka.

Seorang dari kalangan salaf melihat seseorang mengadu kepada orang lain tentang kefakiran dan kebutuhannya, lalu berkata, “Wahai fulan, demi Allah, engkau tidak menambah apa-apa selain mengadukan Dzat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu.”

Tentang hal itu dikatakan:
“Bila engkau mengadu kepada anak Adam,
engkau sesungguhnya mengadukan Sang Maha Pengasih kepada yang tidak berbelas kasih.” (1)]

(1) Bait ini dinisbatkan kepada Zain al-‘Abidin dalam al-Kaskul (hlm. 154), dan kepada sebagian penyair dalam ʿUyūn =
بالسببِ المَنْويِّ به القُرْبَةُ. والذي يُحقِّقُ التوكُّلَ القيامُ بالأسباب المأمورِ بها: فمن عَطَّلَها لم يَصِحَّ توكُّلُه؛ كما أنَّ القيام بالأسباب المُفضِية إلى حصول الخير يُحقِّقُ رجاءه؛ فمن لم يَقُمْ بها كان رجاؤه تمنِّيًا؛ كما أنَّ من عَطَّلها يكونُ توكُّلُه عجزًا وعجزُه توكُّلًا. وسرُّ التوكُّل وحقيقتهُ هو اعتمادُ القلب على الله وحدَه: فلا يَضُرُّهُ مباشرةُ الأسباب؛ مع خلوِّ القلب من الاعتماد عليها والركونِ إليها، كما لا ينفعه قوله: توكَّلْتُ على الله؛ مع اعتمادِه على غيره ورُكونِه إليه وثقتِه به. فتوكُّلُ اللسانِ شيءٌ، وتوكلُ القلب شيءٌ؛ كما أن توبة اللسان مع إصرار القلب شيءٌ، وتوبة القلب وإن لم يَنطِق اللسانُ شيءٌ. فقول العبد: توكلتُ على الله مع اعتماد قلبِه على غيره مثلُ قولهِ: تُبتُ إلى الله وهو مُصِرٌّ على معصيته مرتكبٌ لها. فائدة الجاهلُ يشكو الله إلى الناس، وهذا غايةُ الجهل بالمشكُوِّ والمشكُوِّ إليه؛ فإنَّه لو عرف ربَّه لما شكاهُ، ولو عرفَ الناسَ لما شكَا إليهم. ورأى بعضُ السلف رجلًا يشكو إلى رجلٍ فاقتَه وضرورتَه، فقال: يا هذا! واللهِ ما زدتَ على أن شكوتَ من يَرحمك إلى من لا يَرحمك. وفي ذلك قيل: وإذا شكوتَ إلى ابْنِ آدم إنَّما … تَشكُو الرَّحيمَ إلى الَّذي لا يَرحَمُ (١)
(١) البيت لزين العابدين في الكشكول (ص ١٥٤)، ولبعض الشعراء في عيون =

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie