[…kepada-Nya pada macam pertama saja tanpa macam kedua, Allah pun akan mencukupinya; akan tetapi ia tidak akan memperoleh akibat seperti yang dimiliki oleh orang yang bertawakal kepada-Nya dalam perkara-perkara yang Dia cintai dan ridhai.
Tawakal yang paling agung ialah tawakal dalam meraih hidayah, mengikhlaskan tauhid, mengikuti Rasul, dan berjihad melawan para pengusung kebatilan; inilah tawakal para rasul dan para pengikut mereka yang istimewa.
Tawakal terkadang berwujud tawakal karena keterpaksaan; keadaan di mana seorang hamba tidak menemukan tempat berlindung dan tidak ada jalan keluar kecuali bertawakal, sebagaimana ketika semua sebab tertutup baginya, dadanya sempit, dan ia menyadari bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah selain kepada-Nya. Dalam kondisi seperti ini, pertolongan dan kemudahan tidak pernah luput datang.
Adakalanya pula tawakal bersifat pilihan, yakni tawakal yang ditempuh bersamaan dengan keberadaan sebab yang dapat mengantarkan kepada tujuan.
Bila sebab itu diperintahkan, maka meninggalkannya tercela. Apabila ia menunaikan sebab tetapi meninggalkan tawakal, ia juga tercela, sebab tawakal hukumnya wajib menurut kesepakatan umat dan nash Al-Qur’an; yang wajib ialah menunaikan keduanya dan menggabungkannya.
Apabila sebab tersebut terlarang, haram baginya menekuninya, dan tersisalah baginya satu-satunya sebab yaitu tawakal; tidak ada lagi sebab lain selain itu. Sesungguhnya tawakal merupakan di antara sebab terkuat untuk meraih yang diinginkan dan menolak yang dibenci, bahkan ia adalah sebab terkuat secara mutlak.
Jika sebab itu mubah, maka perhatikanlah: apakah keterlibatanmu padanya melemahkan tawakal atau tidak? Jika ia melemahkannya, menceraiberaikan hatimu, dan mencerai-beraikan perhatianmu, maka meninggalkannya lebih utama. Apabila tidak melemahkannya, maka menunaikannya lebih utama, karena hikmah Dzat Yang Paling Bijaksana menghendaki pengaitan akibat dengan sebab; maka janganlah engkau meniadakan hikmah-Nya selama engkau mampu menunaikannya, terlebih lagi apabila engkau melakukannya sebagai bentuk penghambaan. Dengan demikian engkau telah merealisasikan ubudiyah hati melalui tawakal dan ubudiyah anggota tubuh,]