[Adapun amal (1), penyakitnya ialah ketidakselarasannya dengan kehendak dini Allah—yakni kehendak yang Allah cintai dan ridai. Penyakit ini kadang bersumber dari kerusakan ilmu, kadang dari kerusakan kehendak.
Kerusakan amal dari sisi ilmu terjadi ketika seseorang meyakini bahwa suatu perbuatan disyariatkan serta dicintai Allah padahal tidak demikian, atau ia mengira perbuatan itu dapat mendekatkannya kepada Allah meski tidak disyariatkan; ia menyangka tengah mendekatkan diri kepada Allah dengan amal tersebut padahal ia tidak tahu bahwa perbuatan itu memang syar‘i.
Adapun kerusakan dari sisi niat ialah tatkala seseorang tidak menujukan amalnya kepada wajah Allah dan negeri akhirat, melainkan mengejar dunia dan pandangan makhluk.
Dua penyakit dalam ilmu dan amal ini tak mungkin dihindari kecuali dengan (1) mengenal apa yang dibawa Rasul dalam ranah ilmu dan makrifat, serta (2) menghendaki wajah Allah dan kampung akhirat dalam ranah niat dan kehendak; jika pengetahuan dan kehendak ini hilang, rusaklah ilmu dan amal seseorang.
Iman dan keyakinan melahirkan benarnya pengetahuan dan benarnya kehendak; keduanya pula menumbuhkan serta menguatkan iman.
Dari sini tampaklah bahwa kebanyakan manusia menyimpang dari iman karena mereka menyimpang dari pengetahuan yang benar dan kehendak yang benar.
Iman tidak akan sempurna kecuali dengan menerima pengetahuan dari pelita kenabian dan membersihkan kehendak dari noda hawa nafsu serta keinginan makhluk; sehingga ilmunya dipungut dari pelita wahyu dan kehendaknya murni untuk Allah dan negeri akhirat. Dialah manusia yang paling sahih ilmu dan amalnya; ia termasuk para imam yang membimbing dengan perintah Allah dan para khalifah Rasul ﷺ di tengah umat.]