[Maka “kesempurnaan” yang turut dimiliki hewan—bahkan mereka dapat melampauimu dan memiliki keistimewaan berupa keselamatan akhir—patut engkau tinggalkan demi kesempurnaan hakiki yang tiada kesempurnaan selainnya. Dan hanya dengan pertolongan Allah.
Faedah agung
Apabila seorang hamba memasuki pagi dan petang sementara satu-satunya perhatian hatinya hanyalah Allah semata, Allah—Mahasuci Dia—akan menanggung seluruh kebutuhannya, memikul darinya segala yang merisaukannya, mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, lisannya untuk mengingat-Nya, dan anggota tubuhnya untuk menaati-Nya.
Namun bila ia memasuki pagi dan petang dengan dunia sebagai pusat perhatiannya, Allah akan membebankan kepadanya segala kecemasan, kesedihan, dan kesukarannya, lalu menyerahkannya kepada dirinya sendiri; hatinya pun tersibukkan dari mencintai-Nya oleh kecintaan kepada makhluk, lisannya tersibukkan dari mengingat-Nya oleh pembicaraan tentang mereka, dan anggota tubuhnya tersibukkan dari menaati-Nya oleh pelayanan kepada mereka serta kesibukan-kesibukan mereka. Ia pun bersusah payah seperti binatang buas yang bekerja untuk kepentingan selain dirinya; laksana tungku pandai besi yang meniup perutnya dan menghimpit tulang rusuknya demi manfaat orang lain.
Setiap orang yang berpaling dari penghambaan, ketaatan, dan kecintaan kepada Allah pasti diuji dengan penghambaan, kecintaan, dan pengabdian kepada makhluk.
Allah Ta‘ala berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan Sang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan yang menjadi temannya.” (az-Zukhruf: 36)
Sufyān bin ʿUyainah berkata, “Tidaklah kalian menyebutkan suatu peribahasa terkenal di kalangan Arab melainkan aku bawakan padamu padanannya di dalam al-Qur’an.” Ada yang bertanya, “Di mana dalam al-Qur’an pepatah: ‘Berilah saudaramu sebutir kurma; jika ia tidak mau, berilah ia bara api’?” Ia menjawab, “Pada firman-Nya: ‘Dan barang siapa berpaling dari peringatan Sang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan…,’ hingga akhir ayat.”]