Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

Dan kadang-kadang rasa sempit itu bersumber dari sisi orang yang mengucapkan Al-Qur’an, atau dari anggapan bahwa ia adalah makhluk—salah satu makhluk-Nya—yang kemudian mengilhamkan orang lain untuk menuturkannya.
Kadang-kadang pula ia muncul karena persoalan kecukupan atau ketidakcukupannya, yakni keyakinan bahwa Al-Qur’an tidaklah mencukupi para hamba, sehingga mereka masih memerlukan bersama-sama dengannya penalaran akal, analogi, pendapat, atau kebijakan.
Ada kalanya rasa sempit itu timbul dari sisi petunjuknya: apakah yang dimaksud dengannya ialah hakikat-hakikat yang dipahami darinya pada saat penyampaian, ataukah yang dimaksud justru penakwilan yang melepaskannya dari hakikat-hakikatnya kepada takwil-takwil yang dipaksakan dan rancu? (1)
Kadang-kadang pula muncul pertanyaan apakah hakikat-hakikat itu—sekalipun memang dimaksudkan—benar-benar tetap dalam kenyataan, ataukah ia hanya terkesan dimaksudkan demi suatu maslahat saja?!
Semua golongan ini merasakan sempit di dada terhadap Al-Qur’an; mereka menyadarinya dari diri mereka sendiri dan merasakannya di dalam dada mereka.
Engkau tidak akan pernah mendapati seorang pelaku bidah pun melainkan di dalam hatinya ada rasa sempit terhadap ayat-ayat yang bertentangan dengan bidahnya; sebagaimana engkau tidak akan mendapati seorang zalim lagi pendosa pun melainkan di dalam dadanya ada rasa sempit terhadap ayat-ayat yang menghalangi antara dirinya dan keinginannya.
Renungkanlah makna ini, lalu pilihlah bagi dirimu apa yang engkau kehendaki.

Faedah
Kesempurnaan jiwa yang diharapkan mencakup dua perkara:

  1. Ia menjadi keadaan yang kokoh dan sifat yang menetap pada jiwa.
  2. Keadaan itu sendiri merupakan sifat kesempurnaan pada dirinya.
(1) Dalam naskah asli: "وما".
وتارةً يكونُ من جهة متكلِّمٍ به أو كونِه مخلوقًا من بعض مخلوقاته ألهمَ غيرَهُ أن تكلَّم به. وتارةً يكون من جهة كفايتِه وعدمِها، وأنَّه لا يَكفي العبادَ، بل هم محتاجون معه إلى المعقولات أو الأقيسة أو الآراء أو السياسات. وتارةً يكونُ من جهة دلالته وهل (١) أُرِيدَ به: حقائقُهُ المفهومةُ منه عند الخطاب؟ أو أُرِيدَ به تأويلُها وإخراجُها عن حقائقها إلى تأويلاتٍ مُستكْرَهةٍ مشتركةٍ؟! وتارةً يكونُ من جهة كون تلك الحقائق، وإن كانت مرادةً فهي ثابتةٌ في نفس الأمر؟ أو أوْهمَ أنَّها مرادةٌ لضربٍ من المصلحة؟! فكلُّ هؤلاء في صدورهم حرجٌ من القرآن، وهم يَعلَمون ذلك من نفوسهم، ويَجِدُونه في صدورهم. ولا تجدُ مبتدعًا في دينه قطُّ إلَّا وفي قلبه حرجٌ من الآيات التي تُخالِفُ بدعتَهُ؛ كما أنك لا تجدُ ظالمًا فاجرًا إلَّا وفي صدرِه حرجٌ من الآيات التي تَحُولُ بينه وبين إرادته. فتدبَّرْ هذا المعنى ثم ارْضَ لنفسِكَ بما تشاءُ. فائدة كمالُ النفس المطلوبُ ما تضمَّن أمرين: أحدُهما: أن يَصيرَ هيئةً راسخةً وصفةً لازمةً لها. الثاني: أن يكون صفةَ كمالٍ في نفسه.
(١) في الأصل: "وما".

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie