Dan kadang-kadang rasa sempit itu bersumber dari sisi orang yang mengucapkan Al-Qur’an, atau dari anggapan bahwa ia adalah makhluk—salah satu makhluk-Nya—yang kemudian mengilhamkan orang lain untuk menuturkannya.
Kadang-kadang pula ia muncul karena persoalan kecukupan atau ketidakcukupannya, yakni keyakinan bahwa Al-Qur’an tidaklah mencukupi para hamba, sehingga mereka masih memerlukan bersama-sama dengannya penalaran akal, analogi, pendapat, atau kebijakan.
Ada kalanya rasa sempit itu timbul dari sisi petunjuknya: apakah yang dimaksud dengannya ialah hakikat-hakikat yang dipahami darinya pada saat penyampaian, ataukah yang dimaksud justru penakwilan yang melepaskannya dari hakikat-hakikatnya kepada takwil-takwil yang dipaksakan dan rancu? (1)
Kadang-kadang pula muncul pertanyaan apakah hakikat-hakikat itu—sekalipun memang dimaksudkan—benar-benar tetap dalam kenyataan, ataukah ia hanya terkesan dimaksudkan demi suatu maslahat saja?!
Semua golongan ini merasakan sempit di dada terhadap Al-Qur’an; mereka menyadarinya dari diri mereka sendiri dan merasakannya di dalam dada mereka.
Engkau tidak akan pernah mendapati seorang pelaku bidah pun melainkan di dalam hatinya ada rasa sempit terhadap ayat-ayat yang bertentangan dengan bidahnya; sebagaimana engkau tidak akan mendapati seorang zalim lagi pendosa pun melainkan di dalam dadanya ada rasa sempit terhadap ayat-ayat yang menghalangi antara dirinya dan keinginannya.
Renungkanlah makna ini, lalu pilihlah bagi dirimu apa yang engkau kehendaki.
Faedah
Kesempurnaan jiwa yang diharapkan mencakup dua perkara:
- Ia menjadi keadaan yang kokoh dan sifat yang menetap pada jiwa.
- Keadaan itu sendiri merupakan sifat kesempurnaan pada dirinya.