[• Kenanglah manisnya perjumpaan; pahitnya perjuangan pun akan terasa ringan.
• Engkau telah tahu di mana tujuan; paculah dirimu ke sana, niscaya engkau melaju.
• Tekad paling luhur adalah tekad orang yang menyiapkan diri untuk bertemu Sang Kekasih, lalu mengirimkan bekal amal sebelum saat perjumpaan; ia pun bergembira dengan keridaan saat kedatangan, “Dan sediakanlah (amal) untuk dirimu sendiri.” (Al-Baqarah 2:223)
• Surga rela padamu dengan menunaikan kewajiban; neraka menjauh darimu dengan meninggalkan maksiat; sedangkan cinta tidak puas darimu kecuali dengan pengorbanan jiwa.
• Demi Allah, betapa manisnya suatu masa (1) ketika kaki-kaki ketaatan berlari di hamparan kerinduan.
• Tatkala suatu kaum menyerahkan jiwa mereka kepada pelatih syariat, syariat itu mengajarkan jiwa untuk selaras di tengah pertentangan tabiat; maka ia pun tegak bersama ketaatan—ke mana pun ketaatan berputar, ia ikut berputar.
Dan aku—ketika leher-leher tunggangan mereka beradu
dan pemandu kafilah tergesa-gesa menggugah rombongan—
kusilangkan kedua telapak di dada,
menyadari bahwa aku terhijab, lalu condong menepi. (2)
Pasal
• Engkau melatih anjingmu sehingga ia menahan nafsunya untuk tidak memakan buruan yang ia tangkap—menghormati nikmatmu dan takut akan kekuasaanmu—sedangkan berapa kali Sang pengajar syariat telah melatihmu, tetapi engkau enggan.
• Buruan orang bodoh dan orang yang menahan hasil buruan untuk dirinya sendiri diharamkan; lalu bagaimana dengan orang bodoh yang seluruh amalnya mengikuti hawa nafsu?
• Padamu berkumpul akal malaikat, nafsu binatang, dan hasrat setan, sedangkan engkau…]