[Kuingat Engkau, bukan karena pernah kulupa walau sesaat; dan yang paling ringan dalam zikir hanyalah lidahku yang menyebut-Nyebut-Mu. (1)
• Bila sang pecinta menempuh perjalanan untuk bertemu Kekasihnya, seluruh pasukannya turut menunggang bersamanya: cinta berada di barisan terdepan; harap menuntun tunggangan; rindu menggiringnya; dan takut menjaga mereka tetap pada jalan. Ketika rombongan hampir memasuki negeri perjumpaan, para penyambut Kekasih keluar menyongsongnya.
Sembuhkanlah sakit dengan jasad yang Engkau sendiri hendak binasakan …
padamkanlah bara asmara dengan hati yang Engkau sendiri nyalakan.
Jangan biarkan aku—karena jauhnya kampung halaman—
bersandar pada sabarku yang lemah; Engkau tahu betapa rapuhnya kesabaranku.
Sambutlah hatiku, sebab telah kukirim ia tergesa-gesa …
menuju pertemuan dengan-Mu, sementara kerinduan berjalan mendahuluinya. (2)
• Ketika ia telah berada di hadapan Sang Kekasih, jubah-jubah kemuliaan dicurahkan kepadanya dari segala penjuru—untuk mengujinya: akankah ia merasa tenteram dengan jubah-jubah itu lalu menjadikannya bagian miliknya, ataukah pandangannya tetap tertuju kepada Dia yang memakaikannya?
• Mereka memuat kapal-kapal hati dengan bekal yang hanya pantas dibelanjakan demi Sang Raja; tatkala angin sahur berhembus, kapal-kapal itu pun berlayar, dan ketika fajar terbit kapal-kapal itu sudah bersandar di pelabuhan.
• Mereka menyeberangi gurun cinta dengan kaki kesungguhan; tak lama berselang mereka pulang dari perjalanan, lalu istirahat (3) menyongsong mereka di jalan penyambutan. Mereka memasuki negeri pertemuan dengan menggenggam laba kekekalan.
• Kaum itu mengosongkan hati mereka dari segala kesibukan; di dalamnya dipancangkan tenda-tenda cinta, dan mata ditugasi—kadang berjaga, kadang memercikkan air.]