[…dan engkaulah buahnya; segala sesuatu hanyalah rupa, sedangkan engkaulah maknanya; ia hanyalah cangkang, dan engkaulah mutiaranya; ia hanyalah dadih, sedang engkaulah menteganya.
• Pengumuman bahwa Kami memilihmu telah tertulis dengan huruf-huruf yang terang, tetapi cara engkau membacanya masih lemah.
• Bila engkau ingin mencari-Ku, carilah Aku di dalam dirimu; carilah Aku dari dirimu, niscaya kau dapati Aku dekat. Jangan cari Aku di luar dirimu, sebab Aku lebih dekat kepadamu daripada siapa pun.
• Seandainya engkau mengetahui harga dirimu di sisi Kami, tentu engkau tidak akan merendahkannya dengan maksiat. Kami mengusir Iblis hanya karena ia enggan bersujud kepadamu ketika engkau masih di sulbi ayahmu—maka sungguh menakjubkan! Bagaimana bisa engkau berdamai dengannya lalu meninggalkan Kami?!
• Andai di hatimu ada cinta, pasti bekasnya tampak pada jasadmu:
“Tatkala kuaku-aku cinta, ia berkata, ‘Engkau berdusta!
Tidakkah kulihat anggota tubuhmu masih segar bugar?’” (1)
• Seandainya hati diberi gizi oleh cinta, tentu buncit syahwat akan lenyap:
“Jika engkau seorang pecinta yang murni,
engkau takkan buncit, dan hasrat akan membuatmu lupa makan berlebih.” (2)
• Jika cintamu benar-benar sahih, engkau akan merasa asing terhadap siapa pun yang tidak mengingatkanmu kepada Sang Kekasih.
• Betapa aneh orang yang mengaku cinta, tetapi masih memerlukan pengingat agar teringat Kekasihnya; ia tak pernah menyebut-Nya kecuali setelah diingatkan!
Sekurang-kurangnya cinta tidak membuatmu lalai dari terus mengingat Sang Kekasih:]