dan engkau—yang menyerahkan jiwamu untuk hal remeh semacam ini karena kebodohan; seandainya kau tahu betapa berharganya jiwa, pasti kau takkan mempersembahkannya.
Masa mudamu telah beruban, tetapi sifat kekanak-kanakanmu belum juga renta; waktumu lenyap di antara lalai dan permainan.
Matahari usiamu telah hampir tenggelam, namun bayangan di ufuk timur belum juga sirna.
Yang bersungguh-sungguhlah yang telah meraih pertemuan; dari ufuknya tersibak gelap malam dan gumpalan awan.
Sampai kapan kau mau tertinggal, padahal dunia sudah berkemas dan utusan Tuhanmu telah tiba menjemput?
Tak ada lagi yang tersisa di perkampungan—sesudah tunggangan Sang Kekasih yang kau rindukan berlalu—yang patut disyukuri atau diharapkan oleh seorang pecinta.
Maka hamparkan pipimu di atas debu itu dan ucapkanlah, sebagaimana diucapkan Sang Perindu sepanjang masa (1):
“Tidaklah perkampungan Mayyah, meski dikerumuni hantu-hantu Ghîlân, lebih kusukai daripada perkampunganmu yang tandus;
rumah-rumah yang dulu kucinta dan kukenal, ketika jarak temu begitu dekat;
dan bahkan pipi-pipi tercantik—meski sampai berdarah oleh guratan rindu—takkan lebih memesona di mataku daripada perkampunganmu yang tandus.” (2)
Setiap kali kampung itu tersingkap di hadapannya, ia menjatuhkan diri kepadanya laksana air mengalir menuruni lereng.
Kenangan janji-janji di sana menghidupkan kembali rindunya; andaikata ia memanggil hati untuk melupa, hati itu takkan mau.
Padahal betapa banyak tempat di bumi yang ia kenali, tetapi selain tempat itu ia tak menaruh minat seumur hidup.
Di tenda-tenda ini tak ada saudara sepenanggungan yang bisa menenangkanmu bila kau luahkan sebagian kisah cinta; karena itu, merantaulah!
Berjalanlah dalam pekat malam, terpandu oleh semerbak harum, bukan oleh asap gaharu dan kayu bakar.
Jauhilah setiap kawan pengecut dan tak berdaya; perangilah nafsumu agar ia tak menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan.