di dalamnya. Maka kenikmatan orang yang dianugerahi kekuatan dan kesiapan untuk berjimak terletak pada menggunakan kekuatannya untuk itu. Kenikmatan orang yang dianugerahi kekuatan marah dan keberanian ialah menyalurkan kekuatan amarahnya pada sasarannya. Orang yang dianugerahi kekuatan makan dan minum, kenikmatannya adalah menggunakan kekuatan itu untuk keduanya. Orang yang dianugerahi kekuatan ilmu dan pengetahuan, kenikmatannya terletak pada memanfaatkan kekuatan itu untuk ilmu. Sedangkan orang yang dianugerahi kekuatan cinta kepada Allah, kembali kepada-Nya, menambatkan hati hanya kepada-Nya, merindu kepada-Nya dan merasa tenteram bersama-Nya, maka kenikmatan dan kebahagiaannya ialah menggunakan kekuatan itu untuk tujuan tersebut. Semua kenikmatan selain kenikmatan ini lenyap dan fana; sebaik-baik akibatnya hanyalah tidak berpihak—tak memberi faedah dan tak pula merugikan.
Peringatan
• Wahai yang tidak bersenjata! Waspadalah terhadap firasat orang bertakwa; ia melihat aib amalmu dari balik tabir, sebagaimana sabda, “Takutlah terhadap firasat orang beriman.”(1)
• Mahasuci Allah! Pada diri ini terdapat: kesombongan Iblis, kedengkian Qâbîl, keangkuhan kaum ‘Âd, kedurhakaan kaum Tsamûd, keberanian Namrûd, kesewenang-wenangan Fir‘aun, kezaliman Qârûn, kelancangan Hâmân, hawa nafsu Balaʿam, tipu daya pelanggar Sabtu, pemberontakan al-Walîd, dan kebodohan Abû Jahl.
Dan padanya pula terdapat akhlak-akhlak binatang: kerakusan gagak, lahapnya anjing, keangkuhan merak, kehinaan kumbang tahi, durhakanya kadal, dendam unta, lompatan macan tutul, serangan singa, kefasikan tikus, kebusukan ular, ulah kera, kebiasaan semut menimbun, kelicikan rubah, keringanan kupu-kupu, dan tidurnya hyena.