mengambil inisiatif untuk menawarkan harta kepada orang yang telah menolak kunci-kunci perbendaharaan, dan menyuguhkan bekal kepada orang yang sudah kenyang—“Aku bermalam di sisi Tuhanku; Dia memberiku makan dan minum.”
Hadiah frasa “yang kedua dari dua orang” (at-Taubah: 40) disimpan khusus untuk ash-Shiddîq, tidak untuk selainnya; sebab dialah orang kedua dalam keislaman, kedua dalam mengorbankan diri, kedua dalam kezuhudan, kedua dalam persahabatan, kedua dalam kekhilafahan, kedua dalam umur, dan kedua pula dalam sebab kematian: Rasul ﷺ wafat karena pengaruh racun, dan Abû Bakr juga diracun lalu wafat.
Di tangan beliaulah—dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga—’Utsmân, Thalhah, az-Zubair, ’Abdurrahmân bin ’Auf, dan Sa’d bin Abî Waqqâsh memeluk Islam.
Ketika beliau masuk Islam, beliau memiliki empat puluh ribu dirham; semuanya beliau infakkan saat Islam sangat memerlukannya. Karena itulah lahir pujian Rasul ﷺ: “Tidak ada harta yang paling bermanfaat bagiku sebagaimana harta Abû Bakr.”
Maka beliau lebih utama daripada Mukmin keluarga Fir‘aun—sebab orang itu menyembunyikan imannya, sedangkan ash-Shiddîq menampakkannya—dan lebih utama daripada Mukmin keluarga Yâ Sîn—karena orang itu berjihad sesaat, sedangkan ash-Shiddîq berjihad bertahun-tahun.
Beliau menyaksikan burung kefakiran berkeliling di atas biji altruisme sambil berseru, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik?” (al-Baqarah: 245). Lalu ia menebarkan biji harta di taman kerelaan dan merebah di atas hamparan kemiskinan, hingga burung itu membawa biji itu ke tembolok pelipat-gandaan,