[• Seorang hamba tidak memuliakan jiwanya sebagaimana ketika ia menghinakannya, tidak mengagungkannya sebagaimana ketika ia merendahkannya, dan tidak merehatkannya sebagaimana ketika ia melelahkannya; sebagaimana dikatakan:
Aku akan melelahkan diriku, atau kutemukan ketenteraman; sebab kehinaan jiwa justru terletak pada kemuliaan jiwa.
Ia juga tidak pernah mengenyangkannya sebagaimana ketika ia membiarkannya lapar, tidak pernah menenteramkannya sebagaimana ketika ia menakut-nakutinya, tidak pernah menghangatkannya sebagaimana ketika ia membuatnya merasa asing dari apa pun selain Penciptanya dan Pembentuknya, dan tidak pernah menghidupkannya sebagaimana ketika ia "mematikannya"; sebagaimana dikatakan:
Matinya jiwa adalah hidupnya; siapa ingin hidup—matilah!
• Minuman hawa nafsu memang manis, tetapi akhirnya membuat tersedak.
• Siapa yang teringat cekikan jerat, ringan baginya meninggalkan butir umpan.
• Wahai yang terbelit dalam perangkap syahwat, satu hentakan tekad saja sudah cukup untuk merobek jaring itu.
• Ketetapan takdir pasti berlaku; maka condonglah kepada damai.
• Milik Allah kerajaan langit dan bumi; Dia "meminjam" darimu sebutir biji, lantas engkau kikir! Dia menciptakan tujuh lautan, lalu menginginkan setitik air matamu, tetapi matamu justru kemarau!
• Pandangan yang dibiarkan bebas mengukir di hati citra yang dilihat; padahal hati itu laksana Ka‘bah, dan Sang Sesembahan tidak ridha berhala-berhala berdesakan di dalamnya.
• Kenikmatan dunia—bagai budak perempuan hitam—telah mengalahkanmu, sementara para bidadari terheran-heran atas buruknya pilihanmu dibanding mereka; namun ketika badai syahwat bertiup, ia menaburkan debu ke mata…]